Opini: Quo Vadis Ekonomi Indonesia. What Next?

photo author
Hanggi, Senayan Post
- Jumat, 2 Agustus 2024 | 22:39 WIB
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Amir Uskara  (dpr.go.id)
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Amir Uskara (dpr.go.id)

Ingat, tulis Muhammad Andri Perdana, pada akhir 1996, rasio utang Indonesia berada di level 23,9 persen. Jauh lebih rendah dibandingkan saat ini.

Baca Juga: Hadiri Sholat Ghaib untuk Ismail Haniyeh, Dubes Iran Nyatakan Balasan Lebih Keras untuk Israel

Kita tahu, pada 1997 yang berlanjut sampai tahun 1998, Indonesia jatuh ke dalam krisis ekonomi terparah dalam sejarah pasca-Orde Lama.

Krisis moneter yang berlanjut pada krisis ekonomi itu, telah menjatuhkan rejim orde baru yang berkuasa selama 32 tahun.

Sorotan dunia terhadap utang Indonesia yang kian membengkak dan kurs rupiah yang terus merosot, menjadi persoalan yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Kenapa? Sorotan tersebut mengindikasikan kredibilitas perekonomian Indonesia di dunia internasional sedang tergerus.

Baca Juga: Gugurnya Ismail Haniyeh, Dubes Palestina Tegaskan Rakyat Palestina Tetap Teguh dan Bersatu

Ini bisa terlihat dari merosotnya nilai rupiah dari waktu ke waktu. Kurs rupiah terhadap dolar AS (USD) dalam beberapa bulan terakhir, misalnya, sudah menyentuh angka "kritis" -- di atas Rp 16 ribu.

Di bulan Juni, kurs tersebut mencapai Rp 16.300 perdolar, nyaris menyamai kondisi krismon 1997.

Perlu diketahui, saat Indonesia dilanda krisis moneter tahun 1997-1998, kurs perdolar mencapai Rp 16.650.

Ini kurs USD tertinggi terhadap rupiah sepanjang sejarah orde baru. Apakah di orde reformasi, di era Jokowi, kondisi itu akan terjadi lagi?

Baca Juga: Rencanakan Bangun Masjid Istiqlal di Palestina, Prof Nasaruddin Umar Tegaskan Dukungan untuk Palestina

Saat ini, kurs USD terhadap rupiah sedang merangkak naik. Akankah kurs itu akan menembus angka seperti saat krismon 1997?

Jawabnya, tergantung dari -- bagaimana pemerintah mengatasi kondisi memprihatinkan itu.

Dari perspektif inilah, pemerintah seharusnya berhati-hati. Pemerintahan Prabowo yang akan dimulai Oktober 2024 harus memikirkan hal ini secara serius.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Hanggi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X