Opini: Quo Vadis Ekonomi Indonesia. What Next?

photo author
Hanggi, Senayan Post
- Jumat, 2 Agustus 2024 | 22:39 WIB
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Amir Uskara  (dpr.go.id)
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Amir Uskara (dpr.go.id)

Oleh: Dr. HM Amir Uskara,
Ekonom/Ketua Fraksi PPP/Wakil Ketua MPR RI

SENAYANPOST - Kemana arah ekonomi Indonesia? Pertanyaan menarik mencuat dari podcast Tempo Ekonomi Sabtu (27 Juli 2024) pekan lalu, bertema 10 Tahun Pemerintahan Jokowi: Banyak Utang, Kemiskinan Tetap Tinggi.

Vindry Florentin, wartawati Tempo, dalam podcast tersebut mempertanyakan -- kenapa pengangguran terus naik, padahal rejim Jokowi mengaku investasi di Indonesia terus bertambah?

Logikanya, kata Vindry, jika investasi meningkat, niscaya lapangan kerja makin banyak. Pengangguran pun berkurang.

Faktanya, pengangguran terus membengkak. Di Asia Tenggara, Indonesia kini tercatat sebagai negara dengan tingkat pengangguran tertinggi.

Baca Juga: Way Kanan Regent Asks for AM Hendropriyono's Assistance in Accelerating Reactivation and Private Investment for Gatot Subroto Airport

Menurut World Economic Outlook per April 2024, dari 279 juta penduduk Indonesia, 5,2% (14.508.000 orang) menganggur.

Bandingkan dengan Thailand (1,1%), Singspura (1,9%), Vietnam (3,5%), Malaysia (3,5%), Vietnam (4,9%), dan Filipina (5,1%). Lalu, kemana larinya investasi tersebut?

Bhima Yudistira, eksekutif direktur CELIOS (Center of Economic and Low Studies), nara sumber di Podcast tersebut, menyatakan -- tingginya pengangguran yang berlawanan dengan naiknya investasi karena alokasinya yang tidak tepat.

Banyak investasi yang alokasinya tidak strategis, tidak mendukung perkembangan ekonomi.

Baca Juga: Janji Jusuf Hamka Jika Terpilih di Pilkada Jakarta 2024, Apa Itu?

Dalam pembangunan jalan tol yang jadi ikon legacy rejim Jokowi, misalnya, Indonesia meniru mentah-mentah dari "pengalaman" Tiongkok.

Indonesia -- tidak seperti Cina -- membangun jalan tol tanpa kajian ekonomi strategis yang terkait dengan utilitas jalan bebas hambatan itu.

Akibatnya, keberadaan jalan tol tidak linier dengan perkembangan ekonomi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Hanggi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X