Oleh: Imam Anshori Saleh
SENAYANPOST - Hampir semua partai politik alias parpol di negeri ini telah "memasok" koruptor, dari PDIP misalnya, ada Emir Moeis, Juliary Peter Batubara, Harun Masiku.
Sementara dari Gerindra ada Edhi Prabowo. Dari Golkar ada Setya Novanto, Idrus Marham, M Azis Syamsudin. Dari PPP ada Bachtiar Chamsyah, Suryadharma Ali, dan Romahurmuzi. Dari Demokrat tercatat Anas Urbaningrum, Angelina Sondakh, Andi Malarangeng, M Nazarudin. Dari PKB ada Imam Nahrawi dan Yusuf Emir Feisal. Dari PKS ada Lutfi Hasan Ishak. Dari PAN ada Siti Fadilah Sapari dan Taufik Kurniawan.
Terakhir dari Partai Nasdem, dua Sekjennya, Rio Capella dan Johny G. Plate dalam waktu berbeda terlibat korupsi.
Itu semua para pentolan parpol. Ada ketua umum, sekjen, bendahara, dan lainnya. Masih banyak pengurus dan puluhan kader parpol juga terlibat korupsi dan suap.
Baca Juga: Johnny G Plate Petinggi Nasdem Jadi Tersangka Kasus Korupsi, Anies Baswedan Mengaku Prihatin
Belum lagi yang terjadi di daerah, banyak gubernur, bupati, walikota, anggota DPRD yang semuanya dari parpol dicokok aparat penegak hukum karena korupsi
Dalam kasus korupsi terbaru, terjeratnya Sekjen DPP Partai Nasdem Johny G. Plate yang juga menjabat Menteri Kominfo sangat menghebohkan.
Pasalnya jumlah kerugian negara yang disangkakan dikorupsi sangat besar mencapai Rp 8 triliun. Anggaran proyek BTS 4G sebesar Rp10 triliun dikorupsi 80 persennya. Duh, luar biasa.
Narasi antikorupsi sebenarnya jadi jargon partai-partai politik Ketua Umum Nasdem Surya Paloh pernah berkata lantang, "Kalau ada kader yang korupsi lebih baik Nasdem dibubarkan."
Baca Juga: Kesaksian Security soal Rumah Tangga Desta dan Natasha Rizky Sejak Pindah Rumah Satu Tahun Lalu
PKS selalu menyebut diri sebagai parpol bersih. Partai Demokrat dalam kampanye menjelang Pemilu 2009 memajang gambar dan video "Korupsi, Tidak" sembari memperagakan tangan menyetop.
Tapi yang terjadi sebaliknya, tindak pidana korupsi terkesan begitu "familiar" di tubuh parpol. Mengapa?
Pasca Reformasi peran parpol di negeri ini sangat besar. Parpol-parpol pun berlomba memperbesar partainya dengan memperbanyak anggota legislatif, dan kepala daerah di pusat maupun daerah.