Sebagai pimpinan partai di era 1927-1929 kemudian 1930-an sampai dengan menjadi Presiden dan pemimpin besar revolusi juga sebagai penyambung lidah rakyat Bung Karno selalu berorientasi kepada wong cilik, Marhaen di basis-basis massa.
Jadi buat kita siapa yang akan menjadi capres maupun cawapres yang perlu didukung adalah siapa yang didukung oleh rakyat yang berada dibasis-basis massa diseluruh Indonesia.
Bukan dari hasil survey-survey yang menyangkut elektabilitas dari seseorang, akan tetapi siapa yang memperoleh dukungan mayoritas dibasis-basis massa, figur inilah yang harus didukung dan diperjuangkan agar menang dalam Pilpres 2024 yang akan datang.
Sungguh mati rakyat yang berada di basis-basis massa tidak sebodoh seperti apa yang kita bayangkan walaupun mereka buta huruf misalnya tetapi intuisi mereka sangat tajam dan tidak akan salah pilih kecuali bila terjadi 'serangan fajar' yang dilakukan oleh calon-calon yang logistiknya cukup untuk 7 turunan.
Baca Juga: Promo Mobil Suzuki yang Menguntungkan Bagi Calon Pembeli
Pasangan-pasangan capres dan cawapres yang pantas dipilih oleh basis massa
Dari pengalaman-pengalaman penulis menjadi aktifis politik mula-mula di GMNI, Pemuda Marhaenis, di era 60-an kemudian menjadi kader dan jurkam nasional dari PNI Front Marhaenis membuat penulis mengerti betul kekuatan rakyat yang ada di basis-basis massa.
Jadi sebenarnya merekalah yang menjadi penentu siapa yang akan menjadi Presiden dan Wakil Presiden dimasa depan tahun 2024 yang akan datang, bukan kalangan pimpinan-pimpinan partai partai, cendikiawan ataupun para pengamat-pengamat politik.
Juga bukan ditentukan oleh elektabilitas dari seorang calon seperti yang dapat kita lihat di media TV akan tetapi 'selera' basis massa lah yang amat menentukan.
Baca Juga: Park Hyung Shik dan Park Shin Hye Bakal Beradu Akting dalam Drakor Doctor Slump, Kapan Tayang?
Memang benar bahwa hal-hal tersebut diatas mempengaruhi pilihan rakyat akan tetapi penentu tetap berada di basis-basis massa rakyat.
Berdasarkan kondisi tadi penulis secara subjektif mencoba dengan daya kemampuan menggunakan metode analisa Historis Meteralismenya Bung Karno secara maksimal untuk membuat atau 'mengawin ngawinkan' 2 orang tokoh yang pantas menjadi capres dan cawapres agar dipilih oleh rakyat di basis-basis massa secara nasional.
Adapun hasilnya kurang lebih sebagai berikut :
Prabowo Subianto sebaiknya di damping oleh Ahmad Basarah yang berlatar belakang ke Islamannya yang kuat bahkan adalah menantu dari seorang Habib yang kondang di daerah Kwitang Jakarta Pusat sehingga dapat 'menyerap' kalangan Islam.
Baca Juga: Siapa Sosok APA dalam Kasus Penganiayaan oleh Mario Dandy? Polda Metro Jaya Ungkap Hal Ini