Untuk mengadakan acara besar yang dikenal dengan stendenwedsrijden (pertandingan antarkota), NIVB harus mengeluarkan dana yang besar. Dana itu untuk akomodasi dan konsumsi klub-klub yang menjadi peserta.
Baca Juga: 3 Cara Isi Saldo E-Toll untuk Persiapan Mudik Lebaran 2023, Bisa Dilakukan Lewat HP
Biayanya cukup besar. Tapi NIVB yakin biaya tersebut akan tertutupi oleh karcis masuk. Arek-arek Suroboyo yang terkenal “gila bola” pikir - Belanda - akan membeli habis karcis yang disediakan NIVB. Sehingga panitia tidak akan merugi, bahkan akan untung besar.
Harapan NIVB, biaya kompetisi sepakbola Hindia Belanda itu tertutupi karcis masuk, ternyata gagal.
Ini karena panitia kompetisi melakukan kesalahan besar: melarang media Tionghoa dan Jawa untuk melakukan liputan. Padahal media Tionghoa dan Jawa pembacanya sangat banyak di Surabaya.
Ceritanya, bermula dari seruan Bekker (wartawan koran olahraga mingguan d’Orient yang juga menjadi media resmi dari Kejuaraan Hindia Belanda) melarang media Tionghoa dan Jawa untuk meliput karena sering menjelek-jelekkan NIVB, sehingga jika diundang akan tetap menjelek-jelekkan suasana pertandingan kompetisi.
Baca Juga: Lee Seung Gi dan Lee Da In Bantah Rumor Kehamilan, Agensi 9ato Entertainment Justru Bilang Begini
Bekker sendiri dalam NIVB menjabat sebagai Komisi Hubungan Media. Pimpinan redaksi dari d’Orient adalah A. Zimmerman, seorang Belanda totok militan antipribumi dan anti kaum nasionalis.
Melihat suasana seperti itu, tokoh Tionghoa nasionalis, Liem Koen Hian, melalui korannya Sin Tit Po menyatakan boikot terhadap pertandingan NIVB.
Seluruh warga Surabaya baik yang berasal dari Suku Jawa, Madura, Arab, Tionghoa, India, dan lain-lain mendukung seruan itu. Semuanya berbulat tekad menyatakan: “boikot” terhadap kompetisi Hindia Belanda yang diselenggarakan NIVB.
Sejarah mencatat, saat itu para wartawan di Surabaya kompak dan sepakat untuk tidak “jok sampek nulis beritane bal-balane NIVB”.
Baca Juga: Opini: Donal Trump Kena Batunya
Maksudnya, “jangan sampai menulis pertandingan sepakbola Belanda”. Warga Surabaya dari berbagai etnik juga membuat pamflet yang isinya beragam.
Ada yang membuat pamflet berbunyi: “Masyarakat Surabaya Menolak Stendenwedsrijden”. Ada juga yang menulis: “Agar masyarakat Surabaya tidak menonton pertandingan sepakbola yang diprakarsai oleh Comite van Actie”.
Pamflet itu tidak hanya ditulis besar-besar, melainkan juga ditulis dalam kertas kecil, lalu digandakan dan ditempel di gang-gang sempit seantero Surabaya.
Artikel Terkait
Perbedaan Pemain Sepak Bola Naturalisasi dan Pemain Lokal Versi Stefano Lilipaly
Ingin Serius Tangani Sepak Bola, Zainudin Amali Resmi Mengundurkan Diri
Erick Thohir Berangkat ke Zurich Temui FIFA Terkait Piala Dunia U20: untuk Masa Depan Sepak Bola Indonesia
Seberapa Besar Peluang Indonesia Jadi Tuan Rumah Piala Dunia U17? Begini Komentar Pengamat Sepak Bola
Erick Thohir Pastikan Indonesia Tak Dikucilkan Dunia Sepak Bola Dunia, Ungkap FIFA Beri 'Kartu Kuning'