Secara ekonomi, Belanda merugi sampai 20.000 gulden. Uang sebanyak itu pada tahun 1932, bisa untuk membangun sebuah stadion olahraga (www.orbitindonesia.com 1 April 2023/22:08 WIB).
Baca Juga: Ketika Teknologi Semakin Canggih, Maling Kotak Amal Masjid Pun Bisa Pakai Barcode QRIS
Begitulah sejarah permainan sepakbola. Rejim kolonial Hindia Belanda yang mempolitisasi kejuaraan bola NIVB akhirnya merugi.
Tapi karena saat itu politik adalah panglima (agar Belanda tetap mengukuhkan otoritasnya terhadap Indonesia), risiko apa pun ditempuhnya. Meski secara finansial rugi besar!
Tapi di abad 21, politik Kerajaan Belanda tidak seperti itu lagi. Sepakbola tidak dicampuradukkan dengan politik.
Karena “seniman” bola berbeda dengan “seniman politik”. Jadi, antara laga “senibola” berbeda jauh prinsipnya dengan laga “seni politik”. Negeri Belanda modern menganut prinsip tersebut.
Baca Juga: Jokowi Wanti-wanti para Gubernur Soal Mudik Lebaran 2023: Ini 123 Juta Orang, Hati-hati
Hasilnya, tim Oranye menjadi kesebelasan yang “dihormati” tim-tim besar dunia seperti Jerman, Prancis, Inggris, dan Brasil. Kualitas permainan bola tim Oranye dari Negeri Kincir Angin itu, memang tinggi. Dunia sepakbola mengakuinya! Begitulah ceritanya.***
Artikel Terkait
Perbedaan Pemain Sepak Bola Naturalisasi dan Pemain Lokal Versi Stefano Lilipaly
Ingin Serius Tangani Sepak Bola, Zainudin Amali Resmi Mengundurkan Diri
Erick Thohir Berangkat ke Zurich Temui FIFA Terkait Piala Dunia U20: untuk Masa Depan Sepak Bola Indonesia
Seberapa Besar Peluang Indonesia Jadi Tuan Rumah Piala Dunia U17? Begini Komentar Pengamat Sepak Bola
Erick Thohir Pastikan Indonesia Tak Dikucilkan Dunia Sepak Bola Dunia, Ungkap FIFA Beri 'Kartu Kuning'