Belanda mengerahkan petugas-petugas kepolisian untuk mencopot dan merobek-robek pamflet yang beredar dan menempel di semua sudut kota Surabaya.
Baca Juga: Dokumen Perang Rusia - Ukraina Bocor di Media Sosial, AS 'Kalang Kabut' Cari Sumbernya
Di beberapa tempat, pemuda Surabaya bersama pemuda Tionghoa dan Arab, melawan aparat kepolisian yang akan mencopot pamflet.
Banyak arek-arek Suroboyo nekat melawan petugas yang mencopot pampflet. Pojok-pojok kota yang pamfletnya dicopot polisi Belanda di sang hari, malamnya ditempel lagi dengan pampflet yang sama.
Tak hanya itu. Agar warga Surabaya mendapatkan hiburan pertandingan sepakbola, sebagaimana ditawarkan NIVB, tokoh-tokoh pergerakan nasional di Surabaya dari berbagai etnis, sepakat untuk mengadakan pertandingan yang sama. Yaitu kompetisi nasional antar klub di Surabaya.
NIVB menggelar partai final pada 13 Mei 1932. Warga Surabaya di tanggal yang sama menyelenggarakan pertandingan serupa, antar klub sepakbola Surabaya. Timnya, Indonesia Marine (klub sepakbola Tionghoa) melawan Arabisch XI (klub sepakbola suku Arab). Keduanya dari Surabaya.
Baca Juga: SBS Rilis Poster Terbaru Dr Romantic 3, Tim Produser Bagikan Bocoran Singkat Musim Ketiga
Untuk memeriahkan suasana, sebelum pertandingan sepakbola yang sesungguhnya digelar, tokoh-tokoh Surabaya dari Jawa, Batak, Tionghoa, dan Arab yang sudah berusia baya (setengah tua) – umumnya kerja di kantoran seperti di bank, kereta api, wartawan, guru, dan lain-lain -- mengadakan pertandingan sepakbola dagelan.
Tim pertama, dari kelompok usia baya, pemain bolanya tercatat Lim Koen Hian (Tionghoa, Koran Sin Tit Po), Gondoekoesoemo (Jawa, bankir), Radjamin Nasution (Batak, kelak menjadi Walikota Surabaya ke-9), Oemar Hubisj (Arab, Al-Irsyad), Muhamad Alkaff (Arab, Indo Arabisch Verbond), H.H. Ong (Tionghoa, Lid Gemeenteraad), dan lain-lain.
Tim kedua lawan tim pertama, terdiri atas warga Surabaya biasa yang beretnis Tionghoa dan Arab. Mereka digabung dalam satu kesebelasan.
Mendapat kabar yang menarik, masyarakat Surabaya di Tunjungan, Kembang Jepun, Embong Malang, dan lain-lain sangat antusias ingin menyaksikan pertandingan sepakbola dagelan dan kompetisi nasional tersebut. Mereka menyebarkan berita itu dari mulut ke mulut.
Baca Juga: Begini Nasib Tiga Anak Muda yang Melakukan Klitih terhadap Anggota Kopassus
Hasilnya, perhelatan besar kompetisi nasional di stadion Tambaksari untuk menyaingi kompetisi NIVB, sukses besar. Penontonnya banyak sekali.
Di pihak lain, pertandingan yang diadakan NIVB menjadi sepi. Penontonnya sedikit sekali. Pemboikotan yang digagas Liem Koen Hian dari koran Sin Tit Po berhasil. Belanda pun marah, karena kalah meriah.
Bagi Belanda, pemboikotan itu merupakan pukulan keras, baik secara politik maupun ekonomi. Secara politik, rakyat sadar bahwa jika mereka bersatu, mereka bisa mengalahkan kekuatan besar seperti Belanda.
Artikel Terkait
Perbedaan Pemain Sepak Bola Naturalisasi dan Pemain Lokal Versi Stefano Lilipaly
Ingin Serius Tangani Sepak Bola, Zainudin Amali Resmi Mengundurkan Diri
Erick Thohir Berangkat ke Zurich Temui FIFA Terkait Piala Dunia U20: untuk Masa Depan Sepak Bola Indonesia
Seberapa Besar Peluang Indonesia Jadi Tuan Rumah Piala Dunia U17? Begini Komentar Pengamat Sepak Bola
Erick Thohir Pastikan Indonesia Tak Dikucilkan Dunia Sepak Bola Dunia, Ungkap FIFA Beri 'Kartu Kuning'