Lalu, mana yang benar: sepakbola dan politik harus dipisahkan, atau harus satu kesatuan - biarlah sejarah negeri +62 yang akan membuktikannya kelak.
Baca Juga: Pemain Asing Persija Jakarta Hanno Bahrens Pulang Kampung, Gegara Masalah Ini
Yang jelas, sejarah mencatat: sepakbola adalah olahraga favorit pejuang kemerdekaan Indonesia. Banyak para pendiri bangsa yang terlibat dalam perumusan Pancasila merupakan penggemar dan pemain sepakbola.
Bung Karno, misalnya, adalah penggemar sepakbola. Sedangkan Bung Hatta, tidak hanya penggemar, tapi juga pemain bola.
Tokoh pejuang kemerdekaan lain yang menjadikan sepakbola sebagai olahraga favoritnya, dalam sejarah tercatat: Tan Malaka, Sutomo, Muhammad Husni Thamrin, Sutan Sjahrir, dan Muhammad Yamin.
Nama tokoh kemerdekaan terakhir ini bahkan diabadikan dalam Stadion Olahraga Muhammad Yamin di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.
Baca Juga: Arus Mudik Meningkat Drastis pada Lebaran, Presiden Jokowi: Hati-Hati
Gambaran di atas menunjukkan bahwa sepakbola adalah olahraga yang tidak hanya digemari rakyat kecil dan terpencil seperti di pelosok Papua, tapi juga digemari tokoh-tokoh besar perjuangan kemerdekaan di Pulau Jawa, yang saat itu menjadi pusat pergerakan nasional untuk mewujudkan NKRI.
Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang didirikan di Yogyakarta 19 April 1930 (di mana ketua umum pertamanya Ir. Soeratin) tercatat sebagai organisasi pertama Indonesia yang berani mengusung kata azimat “Persatuan Seluruh Indonesia”.
Kalimat azimat yang ada dalam PSSI ini kemudian menjadi kata perjuangan untuk organisasi lain dalam menggelorakan slogan Persatuan Seluruh Indonesia.
Dengan demikian, sepakbola bukan sekadar olahraga bal-balan, tapi juga sarana untuk menumbuhkan nasionalisme.
Baca Juga: Pemain Asing Persija Jakarta Hanno Bahrens Pulang Kampung, Gegara Masalah Ini
Tokoh sepakbola lain yang terlibat dalam perumusan dasar negara Pancasila di sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) adalah Liem Koen Hian.
Dalam Sidang BPUPKI, tokoh Tionghoa ini selalu menyerukan persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam dunia sepakbola, Liem Koen Hian adalah tokoh penting di balik pemboikotan kompetisi besar pertandingan sepakbola Belanda di Surabaya.
Pada 13-16 Mei 1932, Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB), Induk Organisasi Sepakbola Belanda, mengadakan pertandingan sepakbola seluruh Hindia Belanda di Surabaya untuk memperebutkan Piala Kampiun Nederlansch Indie atau Juara Hindia Belanda.
Artikel Terkait
Perbedaan Pemain Sepak Bola Naturalisasi dan Pemain Lokal Versi Stefano Lilipaly
Ingin Serius Tangani Sepak Bola, Zainudin Amali Resmi Mengundurkan Diri
Erick Thohir Berangkat ke Zurich Temui FIFA Terkait Piala Dunia U20: untuk Masa Depan Sepak Bola Indonesia
Seberapa Besar Peluang Indonesia Jadi Tuan Rumah Piala Dunia U17? Begini Komentar Pengamat Sepak Bola
Erick Thohir Pastikan Indonesia Tak Dikucilkan Dunia Sepak Bola Dunia, Ungkap FIFA Beri 'Kartu Kuning'