Saya tak tahu apakah suasana sidang ujian doktor Hasto Kristiyanto, sekjen PDIP di Universitas Pertahanan, 6 Juni 2023 lalu, suasananya seperti itu -- penuh pujian terhadap pemikiran Bung Karno.
Baca Juga: Sekum Muhammadiyah : Warga Muhammadiyah itu MUKIDI
Judul disertasi Hasto adalah "Diskursus Pemikiran Sukarno dan Relevansinya terhadap Pertahanan Negara". Saya membayangkan, secara psikologis Hasto pun tak akan berani mengungkapkan kelemahan pemikiran Bung Karno.
Itulah dilema "penulisan disertasi" bila obyek penelitiannya adalah pemikiran atau kebijakan seorang tokoh yang dikaguminya, seperti Ikhwan Ahada (MIA) terhadap Pak AR dan Hasto Kristiyanto terhadap Bung Karno, posisi mereka membuatnya sulit untuk mengekspose kekurangan atau kelemahan sosok tokoh yang ditelitinya.
MIA misalnya, dalam disertasinya mengkaji kepemimpinan Pak AR dengan kacamata Robert K. Greenleaf. Menurut Greenleaf, pemimpin yang servant, kudu memiliki 9 karakter: (1) mendengarkan, (2) menerima orang lain dan empati, (3) punya kemampuan memprediksi, (4) persuasif, (5) konseptual, (6) menyembuhkan, (7) melayani, (8) berkomitmen, dan (9) membangun komunitas.
Semua karakteristik itu ada pada Pak AR, tulis MIA. Bahkan melebihi dari kriteria Greenleaf. Seperti hidup sederhana, enthengan (easy going), ikhlas, asketis, spiritual, zuhud, dan lillahi taala, yang terakhir ini poin pentingnya, kepemimpinan Pak AR sandarannya hanya Allah semata. Tak ada yang lain.
Baca Juga: PCIM Arab Saudi Tanggapi Cristiano Ronaldo yang Kini Menjadi Warga Muhammadiyah
Pak AR dalam suatu ceramahnya menyatakan, Allah itu Maha Pencemburu, jika di hati manusia ada cinta lain selain cinta kepada Allah, maka DIA akan cemburu. Kalau Allah cemburu, tahu sendiri akibatnya.
Dengan demikian, memahami kepemimpinan Pak AR yang lebih pas terkait preferensi Allah Yang Maha Pencemburu tadi adalah dengan pendekatan cinta, atau pendekatan sufistik. Hanya saja, pendekatan sufistik, tampaknya kurang favorit di Muhammadiyah.
Hal ini terjadi karena Muhammadiyah taglinenya modernis dan berkemajuan. Dua kata ini tampaknya kurang sinkron dengan dunia tasawuf.
Di Muhammadiyah, misalnya, term kewalian nyaris tak tersentuh dalam diskursus persyarikatan. Padahal, tak sedikit orang Nahdhiyin menganggap Pak AR adalah walyullah. Sesepuh NU, almarhum Kyai Yusuf Hasyim, misalnya menganggap Pak AR adalah waliyullah. Begitu pula Gus Dur, menganggap Pak AR waliyullah.
Baca Juga: Batal Ikut Tur Titanic, Calon Penumpang Kapal Selam OceanGate Expedition Selamat dari Maut
Salah satu ciri waliyullah adalah mempunyai karomah, dan Pak AR sejak masih muda sudah terlihat karomahnya. Waktu jadi guru di Palembang, ketika Pak AR berusia 20 an tahun misalnya, pernah terjadi hal yg unik.
Pak Sukriyanto, putra Pak AR, menceritakan bahwa ada seorang pria tiba-tiba minta maaf ke Pak AR. Ia mengaku telah memberi racun mematikan ke minumannya. Tapi Pak AR tak merasakan apa-apa, pria tersebut akhirnya berlutut minta maaf kepada Pak AR karena ia menganggap beliau waliyullah.
Prof. Bambang Pranowo yang dekat dengan Pak AR, pernah bercerita, ada beberapa orang yang sakit minta disembuhkan dengan air yang didoakan Pak AR, ternyata sembuh.