nasional

Opini: Kebhinekaan untuk Kemanusiaan

Minggu, 31 Maret 2024 | 15:24 WIB

"Ah malas, yang itu-itu lagi," ujarnya bercanda. Nyatanya, ia hadir dan ikut hingga acara hampir berakhir.

Kedua, pada acara buka bersama komunitas Satupena dan Puisi Esai, 15 Maret 2024.

Baca Juga: Opini: Yusril Ihza Mahendra, Sang Maha Guru untuk Jabatan

Lagi-lagi, Bang Trisno selalu masuk list undangan. Ia hadir dan tampak sumringah, bahkan sempat ngobrol dan berfoto berdua denganku.

"Wah, senang masih ada acara-acara begini," ujarnya yang dikanjutkan dengan tawa khasnya yang lepas dan ngakak. Aku jawab setuju. Siap, Bang ...

Jelang tengah malam, Sabtu, 30 Maret 2024, Bang Trisno dipanggil Yang Kuasa, pada usia 61 tahun. Aku terkejut dan berduka.

Bang Trisno wafat di bulan Ramadhan, menjelang Hari Paskah. Ia wafat di bulan baik bagi muslim dan di hari-hari suci bagi umat kristiani.

Baca Juga: Lirik Lagu Magnetic dari Girlband Korea ILLIT: Baby, I'm Just Trying to Play It Cool

Tuhan bisa jadi memilih memanggilnya pada hari-hari pluralisme ini. Persis seperti jalan pengabdian yang Bang Trisno pilih dalam hidupnya.

Pagi ini aku kembali menangis saat membaca japrian bang Yudi Latif, yang khusus membuatkan puisi untuk sahabatnya, Trisno S. Sutanto.

Pulang (1)
Yudi Latif

Pulanglah, kawan, pulang!
Kita hanyalah anak-anak sang waktu yang mengalir dari titik ke titik persinggahan sementara.

Baca Juga: Benjamin Netanyahu 'Tantrum', Batal Kirim Delegasi Israel ke AS Gegara Ini

Waktu dan ruang bukanlah keabadian. Sekadar labirin tanda tanya yang setiap ujung jeda dan pintunya selalu sisakan misteri.

Tapi, setiap jejak tidaklah sia-sia. Seperti samudera bermula dari tetes. Setiap kata yang engkau sapakan pulihkan harapan pada kecemasan.

Halaman:

Tags

Terkini