"Supaya kita bisa menganalisis dari hakikat kontingensi. Kata-kata 'kita akan mengancam', itu akan balas dendam, itu kan tunggu dong, pasti ada tanda-tanda," ungkapnya.
Baca Juga: Mantan Pimpinan JI Mesir Ungkap ISIS dan Al Qaeda Wait and See di Pertempuran Gaza
Kemudian baru-baru ini juga Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperlihatkan peta Timur Tengah tanpa Palestina di dalamnya.
"Kemudian pemicunya ketika Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di PBB menunjukkan peta baru Timur Tengah, nggak ada Palestina. Nah, ini juga harus dicatat," katanya.
Hal tersebut diungkap Netanyahu pada akhir September.
Baca Juga: RAHIM Terus Serukan Perdamaian untuk Palestina dan Israel
"Ini kejadian kan baru-baru aja, 22 September karena itu saya sebut pemicu," jelasnya.
Kemudian Hendropriyono juga menyoroti pertemuan petinggi Hamas dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.
"Intelijen harus lebih banyak sumber dari pada media massa. Kita kan mengikuti dari media massa," ujarnya.
Baca Juga: Opini: Pasangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar juga Mimpi Surya Paloh
Rangkaian peristiwa tersebut seharusnya diamati oleh Intelijen Israel Mossad.
"Tapi kalau saya itu harus dicatat, ada apa itu? Mesti diikuti itu," jelas guru besar STIN itu.***