RAHIM Terus Serukan Perdamaian untuk Palestina dan Israel

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Jumat, 13 Oktober 2023 | 15:23 WIB
Evakuasi penduduk Kota Gaza. (YouTube)
Evakuasi penduduk Kota Gaza. (YouTube)

SENAYANPOST- Pertempuran antara Israel Defence Force (IDF) dan Hamas, gerakan perlawanan Palestina, semakin berkembang. Hizbullah yang merupakan partai politik dan gerakan perlawanan di Lebanon turut bergabung dalam pertempuran tersebut.

Rahim Perdamaian Dunia yang diinisiasi oleh sejumlah ulama muda menyerukan dihentikannya gencatan senjata dan perdamaian antara pihak yang bertempur, untuk berhenti, karena korban jiwa dari pihak Palestina dan Israel terus berjatuhan.

Berikut pernyataan RAHIM Perdamaian Dunia yang diterima oleh Senayan Post : 

 

SIARAN PERS

Jakarta, 12 Oktober 2023

Rahim Perdamaian Dunia--atau yang disingkat Rahim--menyesalkan serangan represif Hamas terhadap Israel yang menewaskan ribuan warga sipil dan menyebabkan terganggunya proses perdamaian antara Israel dan Palestina. Puluhan tentara Hamas dari Gaza berhasil menyusup ke Re'im dan menembaki warga sipil yang sedang menyaksikan Festival Musik. Beberapa dari mereka diculik lalu dibawa ke Gaza dan dijadikan sandera. Demi menjaga stabilitas keamanan dan perdamaian dunia, Rahim mendesak organisasi-organisasi internasional untuk memberikan tekanan kepada Hamas agar menghentikan serangan mereka terhadap Israel.

Direktur Eksekutif Rahim yang juga Ketua LBM PWNU DKI Jakarta, K.H. Mukti Ali Qusyairi, M.A., menyatakan, "Kami sangat menyayangkan dan mengutuk keras serangan kepada siapapun oleh siapapun. Serangan Hamas ini, tidak hanya menewaskan ribuan warga sipil, tetapi juga dapat memicu serangan balik yang besar dari Israel sehingga dapat mengganggu atau menghambat upaya-upaya perdamaian dari berbagai pihak."

Mukti menambahkan, saat ini dunia sedang melakukan upaya-upaya perdamaian untuk mencegah terjadinya perang antarnegara sebagaimana perang Rusia-Ukraina, di samping upaya-upaya pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia. Upaya-upaya ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa kerjasama seluruh negara dalam menjaga keamanan dan merawat perdamaian.

"G20 dan R20 yang diselenggarakan di Indonesia beberapa bulan lalu membahas berbagai persoalan di antaranya perang Rusia-Ukraina dan dampaknya bagi dunia, kerukunan antaragama di mana agama diharapkan menjadi solusi bagi konflik-konflik yang terjadi belakangan ini, pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19, dan perubahan iklim. Semua ini harusnya tidak diabaikan dan menjadi perhatian bersama untuk diselesaikan," ujarnya.

Steering Committee untuk Urusan International Rahim Elisheva Stross, yang berdomisili di Yerusalem, Israel, berkomentar bahwa selama ini Hamas selalu menyerang Israel dengan rudal tanpa berhasil menjatuhkan korban yang jumlahnya signifikan di pihak Israel, karena keberhasilan sistem defense iron dome mereka.

Ia menuturkan, "Selama ini, setiap kali Israel melancarkan serangan retaliasi dengan sangat efektif, ujung-ujungnya adalah kutukan dunia terhadap Israel. Ini disebabkan oleh karena darah yang tertumpah oleh karena retaliasi itu lebih besar daripada darah yang tertumpah karena serangan Hamas. Itu pun karena Hamas doyan memakai tameng manusia, dengan cara menjadikan fasilitas umum sebagai pusat operasional and peluncuran rudal-rudal mereka, seperti Rumah Sakit, sekolah dan pemukiman warga sipil."

Hamas, lanjut Elisheva, telah menunjukkan wajahnya yang sebenarnya kepada dunia. Kebrutalan mereka yang haus darah itu, akhirnya lebih mirip ISIS daripada patriotisme seperti yang mereka klaim, merujuk pada penembakan mereka terhadap para mahasiswa di festival musik, pembunuhan dan penculikan para penduduk lanjut usia, anak-anak termasuk sejumlah 40 bayi di Kibbutz Kfar Aza.

"Hamas mengklaim bahwa mereka akan memulai mengeksekusi mati setiap orang Israel yang mereka sandera, untuk semua bom yang Israel jatuhkan tanpa peringatan terlebih dahulu. Mereka berjanji akan mengeksekusi para sandera sambil disiarkan secara LIVE di media masa dan medsos. Israel masih memiliki etika perang yang mewajibkan IDF untuk menyebarkan pamflet dari udara Gaza, dan menyiarkan di radio serta TV, sebagai peringatan kepada warga sipil untuk keluar dari daerah yang akan mereka hancurkan. Sebuah praktek militer yang tidak pernah diterapkan oleh militer negara-negara lain. Siapa juga yang mengumumkan kedatangan mereka kepada musuh? Sekarang tinggal dunia yang menyaksikan, untuk memilih, mau bertepuk tangan atau mengutuk serangan invasi Hamas," lanjutnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

X