Saat itu, dia diminta untuk meletakkan batu pertama. Kutipannya berikut ini: Sampai kemudian pada masa pemerintah Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri, Hendropriyono diminta untuk menggantikan Ketum PDIP itu menghadiri peletakan batu pertama untuk gedung pembelajaran… “Saya pun pergi ke sana lewat darat, untuk meletakkan batu pertama gedung pembelajaran yang namanya gedung Doktor Ir Soekarno. Saat itu pertama kali saya kenalan dengan Panji Gumilang” (Detik, 19 Juli 2023).
Kalimat-kalimat yang disusun oleh Detik telah memberikan sebuah sudut pandang historis yang menunjukkan hubungan antara subjek dan birokrasi kepemerintahan. Hendropriyono menjadi bagian dari sistem kepemerintahan sehingga tidak bisa dilepaskan dari kebijakan-kebijakan pemimpin pada masa itu. Hal itu dibuktikan melalui deskripsi tentang peran Hendropriyono pada masa Habibie hingga Megawati.
Laporan Tempo tidak memberikan dimensi historis sebagaimana Detik. Deskripsi Hendropriyono sebagai tokoh utama tampak dominan dibanding Detik yang mengikutsertakan tokoh-tokoh lain di dalam sistem kepemerintahan.
Dari sisi judul, Tempo memberikan penekanan tentang hubungan Panji Gumilang dengan tokoh tertentu yang kemudian disebut “jenderal”, sementara itu dalam Detik menjelaskan hubungan Panji dengan tokoh-tokoh kepemerintahan masa itu. Menyebut “hubungan jenderal” memiliki arti yang berbeda dengan “hubungan pemerintah”.
Tokoh yang ditonjolkan adalah sosok jenderal dalam Tempo, tetapi dalam Detik adalah sosok menteri atau kepala BIN. Langkah-langkah birokrasi pada 15 tahun yang lalu bagi Tempo dianggap masih relevan dengan kondisi sekarang. Bagi Detik tidak.
Pertanyaan awalnya, bagaimana tindakan pemerintahan masa lalu dijadikan sebagai dasar pada masa sekarang?
Framing dalam cerita rekaan disebut dengan sudut pandang pencerita. Dalam fiksi, seorang pencerita bisa menjadi pencerita yang mengetahui semua peristiwa. Ini disebut dengan pencerita serba tahu.
Ada pula penderita yang berdiri sebagai satu tokoh yang tidak bisa mengetahui hal-hal di luar kemampuan satu subjek. Ini disebut dengan pencerita aku-an. Baik framing maupun pencerita memiliki kesamaan dalam logika. Masing-masing mengikuti alur logis yang bisa diterima.
Jika dalam fiksi ada orang yang bisa terbang maka secara logis dia tidak akan mati ketika terjun dari ketinggian. Dalam wacana faktual, pembaca dibimbing oleh logika yang bisa diterima (sensus comunis) oleh orang pada umumnya.
Baca Juga: Mahfud MD Sampaikan Perkembangan Terkini Kasus Panji Gumilang dan Ponpes Al Zaytun
Bila direfleksikan dalam dua media di atas, pembaca akan melihat alur logis masing-masing. Bagi Tempo, fakta historis itu merupakan representasi dari eksistensi seseorang pada masa sekarang. Kiprah seorang tokoh 15 tahun lalu menurutnya adalah bukti adanya keterlibatan dalam peristiwa sekarang. Bagi Detik, fakta historis merupakan representasi peristiwa pada masa itu.
Dalam perspektif penafsiran hermeneutik Schleiermacher, tindakan masa lalu pertama-tama haruslah dilihat secara sintagmatik pada masa itu. Arti yang muncul secara historis merupakan permahaman pertama.
Jika harus dikaitkan dengan relevansi masa sekarang, esensi yang diperoleh dari masa lalu haruslah memiliki relevansi dengan fakta-fakta yang hadir sekarang. Ini disebut dengan dua lingkaran hermeneutik.
Kiranya terapi dalam framing adalah logika.
Artikel Terkait
Ketika AM Hendropriyono Bercerita Pertama Kali Kenal Panji Gumilang dan Pesantren Al Zaytun
Dituding 'Bekingi' Panji Gumilang dan Pesantren Al Zaytun, AM Hendropriyono: Saya Heran Kok Ributnya Sekarang?
Al Zaytun Diresmikan BJ Habibie dan Megawati, AM Hendropriyono Sorot Keributan Saat Ini
Peter Gontha: AM Hendropriyono Itu Menggalang Pesantren Al Zaytun, Karena Mereka Bertentangan dengan NII
Bukan Menakuti-Nakuti, AM Hendropriyono: Polemik Al Zaytun Bisa Jadi Pematik Perang Artificial Intelligence