"Kalau Jepang kan mereka ke lapangan, ngukur, ditimbang kemudian melakukan survei 4 tahun," lanjutnya.
Dosen Nanyang Technological University (NTU), Singapura itu menyebut bahwa studi yang dilakukan China tidak empirik atau situasi yang tidak didasarkan pada peristiwa nyata melalui penelitian atau observasi.
Saat itu, Sulfikar juga menyebut bahwa studi tanpa turun ke lapangan juga menjadi penyebab pembengkakan biaya atau cost overrun yang kini ditanggung oleh proyek Whoosh.***
Artikel Terkait
Polemik Utang Proyek Whoosh Kereta Cepat Jakarta Bandung, Istana: Sedang Mencari Skema Terbaik
Ray Rangkuti Sebut Whoosh dan IKN Proyek Ikonik Jokowi Sedang Dikuliti Masyarakat
Prabowo Turun Gunung, KPK Pastikan Penyelidikan Proyek Kereta Cepat Whoosh Tetap Jalan
Whoosh Kini Jadi Sorotan, Akademisi Ungkap 2 Perdebatan Awal di Balik Proyek Kereta Cepat
Soroti Perbedaan Pernyataan soal Penyelidikan Whoosh, Saut Situmorang Ungkap Perbedaan KPK Dulu dan Sekarang