Iran Kembangkan Teknologi Roket Berkecepatan Mach 15, Analis Intelijen Soroti Daya Ledak dan Proyeksi Konflik

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Rabu, 2 Juli 2025 | 15:16 WIB
Rizal Darma Putra menyoroti perkembangan teknologi roket Iran berkecepatan Mach 15 dengan presisi tinggi, daya ledak dan proyeksi konflik. (Tangkapan layar YouTube Akbar Faizal Uncensored)
Rizal Darma Putra menyoroti perkembangan teknologi roket Iran berkecepatan Mach 15 dengan presisi tinggi, daya ledak dan proyeksi konflik. (Tangkapan layar YouTube Akbar Faizal Uncensored)

SENAYANPOST - Analis intelijen dan hubungan internasional, Rizal Darma Putra, menyoroti perkembangan signifikan dalam teknologi roket Iran hingga proyeksi konflik ke depannya.

Menurutnya, pembangunan kekuatan roket Iran telah berlangsung lama dan tidak terlepas dari dukungan negara-negara lain di sekitarnya.

"Ini sudah lama dari pemerintah Iran untuk membangun kekuatan roketnya, dan tentunya dia tidak bekerja sendiri. Ada dukungan dari negara lain," jelas Rizal, dikutip SenayanPost.com pada 29 Juni 2025 dari YouTube Akbar Faizal Uncensored.

Ia menambahkan, pengembangan ini mencakup riset berkelanjutan agar roket mampu mencapai kecepatan hingga Mach 15, sekaligus memiliki kemampuan senyap atau stealth yang semakin canggih.

Namun, Rizal menegaskan masih ada satu aspek yang menjadi misteri, yakni soal daya ledak roket tersebut.

Baca Juga: AM Hendropriyono's Views on the Israeli-Iranian War and the Condition of Palestine, Iran is a Strong and Disciplined Nation

"Teknologi roket umumnya mencakup tiga hal: jarak jangkau, kecepatan, dan presisi circular error. Circular error-nya sudah sampai hanya 5 kilometer saja paling jauh melesetnya. Tapi daya ledak, ini yang masih menjadi tanda tanya, apakah mengarah ke micro nuclear," jelasnya.

Rizal juga mengutip laporan intelijen Amerika Serikat yang menyebut Iran masih mampu mengoperasikan hingga 60 persen fasilitas pengayaan uraniumnya di Fordow, Natanz, dan Isfahan.

Ini menimbulkan kekhawatiran jika teknologi roket Iran nantinya dikombinasikan dengan kemampuan nuklir.

Sementara itu, pengamat politik Akbar Faizal mengungkapkan hasil komunikasinya dengan Duta Besar Indonesia untuk Iran.

Menurutnya, jika pecah perang terbuka antara Israel dan Iran, Israel hanya mampu bertahan sekitar 29 hari sebelum Iran berpotensi langsung berhadapan dengan Amerika Serikat (AS).

Baca Juga: AM Hendropriyono: Negara Arab Gelisah dengan Iran Gegara Ini, Persatuan Militer Jadi Taruhan Besar

Rizal menambahkan, kebijakan luar negeri AS terkait konflik Timur Tengah juga tidak konsisten.

"Saya melihat kebijakan luar negeri AS sejak era Trump tidak konsisten, terlalu banyak executive order, dari perang dagang, perang tarif, hingga kini mendukung perang Israel melawan Iran," ungkapnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Sumber: YouTube Akbar Faizal Uncensored

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X