Trisno Sutanto sejak tahun 2014, selalu intens berkomunikasi dengan saya, terutama di WA japri, ataupun WAG Ciputat Grup, Esoterika dan Satupena.
Sayup- sayup saya mendengar ia acapkali sakit karena asam lambung dan asam urat. Namun jika jumpa tatap muka ataupun di japri WA, ia tak pernah cerita langsung.
Selamat jalan, teman. Isu keberagaman, kebebasan dan kesetaraan yang bro Trisno hayati sebagai life calling, akan terus hidup. Akan terus kami nyala- nyalakan. Selamat jalan sang pejuang.***
Artikel Terkait
Israel Larang Pengunjung Yahudi dan Nonmuslim Masuki Kompleks Masjid Al Aqsa hingga Penghujung Ramadhan
Opini: Keikhlasan Rasulullah dan Perempuan Yahudi Tua
Opini: Bansos Tanpa Pamrih
Opini: Syariah Islam dalam Kitab Kama Sutra Assikalaibineng
Opini: The Miracle Man, Kisah Masjid Sholawat dan Denny JA
Opini: Yusril Ihza Mahendra, Sang Maha Guru untuk Jabatan
Opini: Kebhinekaan untuk Kemanusiaan