Oleh: Syaefudin Simon, Kolumnis
SENAYANPOST - Malam tahun baru 2024, aku demam. Mulai jam enam sore sampai hampir jam 12 malam badanku menggigil. Udara terasa dingin sekali. Aku harus kemulan selimut lapis tiga di tempat tidur untuk menghangatkan badan.
Pas jam 11.59 malam, hanya semenit pergantian tahun dari 2023-204, tubuhku yang menggigil, tiba-tiba terlontar ke angkasa.
Kulihat, langit semua putih. Kerlip-kerlip cahaya indah terlihat di tengah lautan putih di langit luas itu. Tak ada bulan. Tak ada bintang. Semua penjuru langit tertutup dengan awan putih yang ditingkahi kerlap kerlip cahaya warna warni yang indah itu.
Di tengah kekagetan karena tubuhku melayang-layang di atas hamparan putih langit yang tak terbatas itu, tetiba sesosok makhluk berpendar cahaya mendekatiku.
Selamat Tahun Baru Simon Petrus? Sapanya.
Baca Juga: Bawaslu Jakarta Pusat Sebut Cawapres Gibran Rakabuming Langgar Aturan Usai Pembagian Susu di CFD
Aku kaget luar biasa. Aku Simon El-Sirboni. Bukan Simon Petrus. Jawabku sambil mengucapkan balik Selamat Tahun Baru 2024.
Perkenalkan, aku Malaikat Pencatat Suara Hati Manusia. Sebut saja namaku Malaikat M. Aku ingin kau menjadi saksi dari survei hati nurani seluruh umat manusia. Tuhan memerintah 8 trilyun malaikat untuk mensurvei penduduk bumi yang berjumlah 8 milyar manusia. (1)
Ha? Aku kaget luar biasa. Malaikat mau melakukan survei hati nurani manusia? Batinku bertanya-tanya. Aku makin penasaran.
Malaikat, bukankah survei itu biasanya dengan sampling saja. Tidak cukupkah mengambil sampling satu juta orang dari seluruh penduduk bumi?
Baca Juga: Kasus Penyetopan Mobil Pribadi oleh Petugas Dishub Jakarta Selatan Berakhir Damai
Tidak. Samping model lembaga survei itu hanya metode manusia. Langit tidak boleh melakukan survei semacam itu.
Survei harus menembus hati nurani setiap manusia. Tuhan memerintahkan kami -- 8 trilyun malaikat -- untuk mensurvei enam milyar manusia. Jadi satu manusia disurvei oleh satu milyar malaikat. Jelas Malaikat M.
Bagaimana caranya Malaikat M? Mosok satu manusia dikeroyok pertanyaan oleh satu milyar malaikat?
Artikel Terkait
Opini: Demokrasi dan Pilihan Rakyat
Opini: Cinta yang Tak Sampai kepada Gadis, Anak dari Tokoh yang Dicap Aktivis PKI
Opini: Geert Wilders Menang, Islam di Belanda Meradang
Opini: Haul Gus Dur di Tengah Badai Kehancuran Hukum dan Demokrasi
Opini: Mempertanyakan Komitmen EBT dan Emisi Karbon Nol
Opini: Mengakhiri Tahun 2023 dengan Catatan Buruk HAM Dunia
Opini: Rizal Ramli, Sang Rajawali