SENAYANPOST - United Nation High Commissioner for Refugees (UNHCR) mengaku prihatin dengan insiden pengusiran pengungsi Rohingya di Aceh baru-baru ini.
Dalam situs resminya, UNHCR mengkhawatirkan keselamatan para pengungsi Rohingya tersebut setelah diusir sekelompok mahasiswa yang berdemonstrasi.
Tidak hanya itu, UNHCR juga mengimbau kepada masyarakat Indonesia akan kampanye online terkoordinasi yang menyebabkan banyaknya ujaran kebencian terhadap pengungsi di media sosial.
"UNHCR masih sangat mengkhawatirkan keselamatan para pengungsi dan menyerukan kepada aparat penegak hukum setempat untuk mengambil tindakan darurat guna memberikan perlindungan bagi semua individu dan staf kemanusiaan yang putus asa," tulis UNHCR pada 28 Desember 2023, dikutip SenayanPost.com dari situs resmi Badan Pengungsi PBB tersebut.
Baca Juga: Indonesia dan Mesir; Dua Bandul Perdamaian Dunia
Menurut Badan Pengungsi PBB, upaya pemindahan paksa ini hasil koordinasi yang berisi misinformasi dan ujaran kebencian.
Oleh karena itu, pihaknya meminta masyarakat untuk berhati-hati dan memilah informasi.
"Serangan massa terhadap pengungsi ini bukanlah sebuah tindakan yang terisolasi namun merupakan hasil dari kampanye online yang terkoordinasi yang berisi misinformasi, disinformasi dan ujaran kebencian terhadap pengungsi dan upaya untuk merusak upaya Indonesia dalam menyelamatkan nyawa orang-orang yang putus asa dalam kesulitan di laut," lanjutnya.
UNHCR menegaskan bahwa pengungsi Rohingya yang saat ini terus berdatangan adalah korban penganiayaan dan konflik yang berkepanjangan di Myanmar.
Baca Juga: Gus Barra Resmi Maju di Pemilihan Bupati Mojokerto 2024 dari PAN
"UNHCR mengingatkan semua orang bahwa pengungsi anak-anak, perempuan dan laki-laki yang putus asa yang mencari perlindungan di Indonesia adalah korban penganiayaan dan konflik, dan merupakan penyintas perjalanan laut yang mematikan," terangnya.
"Badan Pengungsi PBB juga memperingatkan masyarakat umum untuk mewaspadai kampanye online yang terkoordinasi dan dikoreografikan dengan baik di platform media sosial, yang menyerang pihak berwenang, masyarakat setempat, pengungsi dan pekerja kemanusiaan, menghasut kebencian dan membahayakan nyawa," tambahnya.
Di akhir pernyataan, UNHCR mengimbau kepada masyarakat untuk mencek ulang informasi yang tersedia di sosial media.
Sebagaimana pantauan SenayanPost.com, banyak sekali akun-akun UNHCR palsu bertebaran di media sosial seperti Instagram atau TikTok.
Artikel Terkait
Polisi Pidie Selidiki Kasus Penyelundupan Etnis Rohingya, Pelaku Raup Untung hingga Rp3,3 Miliar
Isu Makin Liar, UNHCR Beberkan 10 Fakta Seputar Pengungsi Rohingya di Aceh
Jelang Tahun Baru 2024, Ini Rangkaian Acara Malam Muda Mudi Jakarta Kota Global
BREAKING NEWS: Eks Gubernur Papua Lukas Enembe Meninggal Dunia
Memahami Program Makan Gratis untuk Pelajar Dari PAGI (Prabowo-Gibran)