Opini: Tiktok Shop, Predatory Pricing, dan Kehancuran UMKM

photo author
Hanggi, Senayan Post
- Sabtu, 7 Oktober 2023 | 09:41 WIB
Amir Uskara
Amir Uskara

Negara produsen sudah tahu kecenderungan pembeli di negara-negara konsumen tadi. Sehingga ia tahu betul, strategi dagang apa yang akan dijalankannya, agar produknya laku.

Baca Juga: Mendag Zulkifli Hasan Ungkap Revisi Permendag 50 Tahun 2020, TikTok Shop Bakal Ditutup?

Katakanlah, pertama produknya masuk ke negara konsumen, ia akan banting harga. Istilah bisnisnya, ia akan melakukan pricing predatory.

Dengan harga barang yang murah meriah -- produsen berani rugi untuk menjatuhkan pesaing -- konsumen akan menyerbu produk tersebut. Barang yang sama yang diproduksi negara konsumen, tidak laku. Karena harganya kalah murah.

Akibatnya, pabrik di negara konsumen bangkrut. Setelah itu, konsumen di negara tadi, tergantung dari produk impor. Mau tidak mau, mereka harus membeli barang impor tersebut.

Sedikit demi sedikit, harga pruduk dari negara produsen tadi, dinaikkan. Bahkan nantinya, bisa sangat mahal. Tapi pembelinya tetap ada. Karena konsumen tidak ada pilihan.

Baca Juga: Syahnaz Sadiqah Joget TikTok Pasca Minta Maaf karena Selingkuh, Kelihatan Bahagia?

Itukah yang akan terjadi di Indonesia, di mana produk-produk yang dijual TS harganya sangat murah? Sehingga menyebabkan pedagang di TA sepi pembeli? Sangat mungkin.

Denny Siregar dalam YouTube menggambarkan, negara produsen yang kaya itu Cina. Negara konsumen yang seksi itu Indonesia. Konsumen Indonesia sangat sensitif dengan harga.

Mereka menyerbu produk berharga murah, meski made in China. Padahal barang yang sama, ada yang made in Indonesia.

Kasusnya beda dengan orang Korea Selatan. Penduduknya sangat nasionalis. Produk buruk atau mahal, jika buatan Korsel, akan dibeli rakyatnya. Mereka bangga terhadap produk nasionalnya.

Baca Juga: Opini: Di Balik Pelarangan TikTok di Amerika Serikat

Indonesia? Tampaknya belum senasionalis orang Korsel. Itulah sebabnya produk dumping yang harganya amat murah yang dijual TS, meski made in China, laris manis. TS pun menjadi pasar "predatory pricing" yang bisa menghancurkan barang yang sama y yang diproduksi Indonesia.

Itulah sebabnya, kenapa ada kaus kaki dan celana pendek berharga ratusan perak di TS.

Terbayang jika TS yang rawan disusupi komoditi predatory pricing tidak dilarang, apa yang akan terjadi pada industri dan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) Indonesia?.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Hanggi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X