Biasanya, kami bertemu Prof. Ali Jum’ah hanya di masjid saja. Beberapa kali ke Masjid Fadlil yang terletak di dekat rumah beliau di kawasan 6th October City, dalam beberapa kegiatan antara lain peringatah Hari Besar Islam seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Tahun Baru Hijrah atau Isra Mi’raj. Pesertanya sangat banyak. Tidak hanya warga Mesir, akan tetapi pelajar asing baik dari Indonesia, Malaysia, Singapuran, Thailand, China dan Asia Tengah.
Penjagaan cukup ketat, karena pernah mendapatkan serangan teror dari salah satu sayap bersenjata Ikhwanul Muslimin. Pernah pada Maulid Nabi Muhammad SAW di tahun 2018, penjagaan sangat ketat dan hadirin dibatasi. Bahkan komando penjagaan adalah perwira polisi setingkan jenderal bintang dua.
Setelah kembali ke Tanah Air, penulis berkempatan lagi mendampingi rombongan FGD Pancasila yang dipimpin Prof. AM Hendropriyono bersama sejumlah guru besar dari UGM Yogyakarya, UIN Alauddin Makassar dan UN Jakarta, diterima Prof. Ali Jum’ah di dalam kediaman beliau. Kali ini kami disuguhi tasbih satu jenis yaitu kayu koka.
Beberapa tahun setelah pertemuan itu, ternyata tasbih tulang unta hadiah dari Prof. Ali Jum’ah hilang. Semoga cepat ketemu. Adapun tasbih kayu koka masih ada. Karena khawatir hilang, sering penulis pegang dan kalungkan di leher.
Tasbih tulang unta ini, menurut beberapa teman yang pakar tasbih, memang harganya mahal, karena buatan Turki. Ukirannya sangat teliti. Sering penulis kalungkan di leher karena memang terasa adem.
Beberapa waktu lalu, muncul video dialog Prof. Ali Jum’ah dengan salah satu murid beliau yang bertanya, apakah yang dilakukan jika seseorang kehilangan tasbih hadiah dari gurunya. Prof. Ali Jum’ah menjawab, “Berarti harus bertemu dengan gurunya lagi.”
Semoga menjadi alasan bertemu kembali dan ta’dzim kepada Prof. Ali Jum’ah.