Sementara itu, Sayyid Quthub dalam Fi Zilal al-Qur’an, mengatakan tentang ayat; fa aina tadzhabun, adalah teriakan langit kepada manusia yang tersesat dalam materialisme dan kehilangan orientasi spiritual.
Peradaban modern, menurutnya, berhasil membangun kemajuan teknis yang luar biasa, tetapi gagal membangun manusia yang mengenal Tuhannya. Dunia menjadi terang oleh cahaya listrik, tetapi hati manusia justru semakin gelap.
Karena itu Arafah bukan sekadar tempat berkumpulnya jamaah haji. Ia adalah pengadilan batin manusia.
Di sana seluruh topeng sosial runtuh.
Manusia dipaksa berhadapan dengan dirinya sendiri.
Dan di tengah jutaan talbiyah yang bergema:
“Labbaik Allahumma Labbaik…”
sesungguhnya manusia sedang menjawab panggilan primordial yang telah ada sejak ruh pertama diciptakan:
panggilan untuk kembali.
Panggilan itu terdapat pada Surat al-A'raf yang arti secara bahasa adalah mengenal, mengetahui, atau memahami, A'raf berarti adalah tempat orang-orang yang mampu 'mengenali' dirinya, lantas mungkinkah ini kesamaan dengan Arafah?
Dalam Surat tersebut pada Ayat ke 172 ada sebuah dialog antara Tuhan dan Manusia yang saya menyebutnya sebagai 'kesaksian purba'.
أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ
"Bukankah Aku Tuhanmu?"
قَالُوا۟ بَلَىٰ شَهِدْنَا
"Mereka menjawab: 'Benar (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.'"
Dalam tradisi tasawuf dan irfan, ayat ini dipahami sebagai perjanjian primordial antara Allah dan seluruh ruh manusia sebelum kehidupan dunia. Karena itu, talbiyah dalam haji:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ
"Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu"