khazanah

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Dalam sebuah riwayat terkenal, Imam Ali Zainal Abidin pernah berdialog dengan salah seorang sahabatnya, As-Syibli, sepulang dari haji. Imam tidak bertanya berapa lama ia berada di Makkah, berapa banyak thawaf yang dilakukan, atau berapa kali ia mencium Hajar Aswad. Imam justru menanyakan sesuatu yang jauh lebih dalam.

“Ketika engkau berihram,” tanya beliau, “apakah engkau berniat menanggalkan pakaian maksiat sebagaimana engkau menanggalkan pakaian dunia?”

As-Syibli terdiam.

“Ketika engkau thawaf mengelilingi Ka'bah, apakah hatimu benar-benar berputar hanya kepada Allah?”

As-Syibli kembali terdiam.

“Ketika engkau sa’i antara Shafa dan Marwah, apakah engkau menyadari bahwa hidup manusia berjalan antara takut dan harap kepada Tuhan?”

Dan setiap kali As-Syibli menjawab bahwa ia belum menghadirkan makna itu, Imam berkata dengan kalimat yang mengguncang: “Maka engkau belum benar-benar melakukannya.”

Dialog itu terasa seperti pisau yang membelah permukaan ritual menuju inti spiritualitas. Imam Ali Zainal Abidin seakan ingin mengatakan bahwa manusia sering melakukan ibadah secara fisik, tetapi tidak pernah benar-benar hadir secara eksistensial di dalamnya.

Dalam tafsir Al-Mizan, manusia dipandang bukan sekadar makhluk biologis, tetapi wujud yang sedang bergerak menuju kesempurnaan ilahi. Seluruh hidup manusia adalah perjalanan ontologis menuju Tuhan.

Karena itu pertanyaan:
فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ

bukan pertanyaan geografis, melainkan pertanyaan metafisik:
“Mengapa manusia berjalan menjauh dari sumber keberadaannya sendiri?”

Dalam filsafat yang memengaruhi Thabathabai, seluruh eksistensi bergerak. Tidak ada wujud yang diam. Sebagian bergerak menuju cahaya, sebagian menuju kehampaan. Maka haji adalah simbol perjalanan pulang manusia menuju pusat ontologisnya: Allah.

Simbolisme itu tampak sangat kuat dalam thawaf. Jutaan manusia mengelilingi Ka'bah sebagaimana planet mengelilingi matahari. Seolah seluruh alam semesta sedang mengajarkan bahwa pusat kehidupan bukan ego manusia. Modernitas menjadikan manusia merasa sebagai pusat dunia, sedangkan haji menghancurkan kesombongan itu di hadapan kesunyian kosmik.

Dan Imam Ali Zainal Abidin memperdalam simbol itu. Ketika beliau bertanya kepada As-Syibli tentang Hajar Aswad, beliau tidak berbicara tentang batu. Beliau bertanya apakah saat menyentuhnya, ia merasa sedang memperbarui janji kesetiaan kepada Allah.

Karena batu itu bukan pusatnya.
Yang menjadi pusat adalah kesadaran.

Halaman:

Tags

Terkini

KH. Imam Jazuli di Antara Kenyataan dan Kritikan

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:28 WIB

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB