Oleh : Rikal Dikri
Sekretaris Yayasan Bina Ruhani Nusantara
Matahari Arafah membakar padang pasir dengan kesunyian yang sulit dijelaskan. Jutaan manusia berdiri dalam pakaian putih tanpa jahitan. Tidak ada lagi tanda kebesaran dunia. Tidak ada gelar akademik, tidak ada pangkat politik, tidak ada simbol kekuasaan. Semua larut menjadi tubuh-tubuh kecil yang menengadah ke langit.
Seorang lelaki tua dari Indonesia menangis sambil menggenggam tasbih lusuh. Di sampingnya, seorang pemuda Afrika memejamkan mata dengan bibir gemetar melafalkan talbiyah. Di kejauhan, seorang perempuan dari Iran menadahkan tangan seakan sedang berbicara kepada sesuatu yang sangat lama ia rindukan.
Dan di atas seluruh lautan manusia itu, Al-Qur’an seakan menurunkan satu pertanyaan yang mengguncang seluruh eksistensi:
فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ
“Maka ke manakah kamu akan pergi?”
Ayat itu pendek, tetapi kedalamannya melampaui perjalanan fisik menuju Makkah. Ia menembus pertanyaan paling purba dalam diri manusia: 'ke mana sebenarnya hidup ini bergerak?'
Dalam dunia modern, manusia bergerak semakin cepat. Pesawat melintasi benua dalam hitungan jam. Teknologi memperpendek jarak dan mempercepat waktu. Tetapi justru di tengah percepatan itu, manusia modern mengalami apa yang disebut sebagai keterasingan eksistensial. Manusia tenggelam dalam rutinitas, keramaian, dan dunia yang mekanis hingga lupa mempertanyakan makna keberadaannya sendiri. Hingga ibadah pun hanya mengekspose gengsi dan mengatakan kepada dunia maya "Saya Sudah Haji".
Heidegger menyebut kondisi itu sebagai das Man: manusia hidup mengikuti arus kolektif tanpa benar-benar menjadi dirinya sendiri. Ia bekerja, berlari, membeli, membangun, dan mengejar ambisi yang diwariskan masyarakat, tetapi tidak pernah berhenti untuk bertanya:
“Mengapa aku hidup?”
Karena itu manusia modern mengalami Geworfenheit — keterlemparan ke dalam dunia. Ia hadir di bumi tanpa benar-benar memahami arah keberadaannya. Dan di titik inilah haji hadir bukan sekadar ritual, tetapi teguran eksistensial.
Haji menghancurkan ilusi modernitas. Ketika seseorang mengenakan ihram, seluruh identitas sosialnya runtuh. Seorang presiden berdiri sejajar dengan buruh migran. Seorang profesor tidur di tanah bersama petani miskin. Di hadapan Ka'bah, semua manusia kembali menjadi makhluk fana yang telanjang secara ontologis.
Namun Islam tidak berhenti pada penghancuran ego sosial. Ia melangkah lebih jauh: mengguncang batin manusia hingga ke pusat terdalam dirinya.