Dalam psikologi humanistik, Abraham Maslow menempatkan self-transcendence—melampaui kepentingan diri—sebagai puncak kematangan manusia. Barak petugas haji adalah jalan sunyi menuju titik itu. Tidak ada seremoni, tidak ada wisuda, hanya proses panjang yang menempa.
Pelatihan ini tidak hanya berhenti pada 20 hari saja, melainkan riyadlah ini harus kontimuitas kita lakukan dan nilai-nilai yang ditempa di barak akan menetap sebagai ingatan moral. Inilah agama yang memanusiakan—agama yang tidak berhenti pada ritual, tetapi menjelma menjadi etos hidup.
Kehidupan petugas haji laiknya manusia bersimpuh di Arafah, sebagaimana Arafah adalah momen kesadaran manusia sebagai manusia, tanpa identitas buatan: ras, jabatan, negara, atau kelas sosial. Di Arafah, manusia kembali menjadi manusia.
Pada akhirnya, barak petugas haji bukan sekadar tempat istirahat. Ia adalah madrasah kemanusiaan tanpa papan nama. Di sanalah petugas PPIH angkatan pertama dilatih—bukan untuk menjadi lebih suci dari yang lain, tetapi kembali pada martabat dasarnya sebagai manusia untuk memuliakan manusia yang menjadi dluyufurrahman (para tamu agung sang Khaliq).