Barak Petugas Haji Adalah Madrasah Kemanusiaan Tanpa Papan Nama

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Kamis, 22 Januari 2026 | 13:27 WIB

Dalam psikologi humanistik, Abraham Maslow menempatkan self-transcendence—melampaui kepentingan diri—sebagai puncak kematangan manusia. Barak petugas haji adalah jalan sunyi menuju titik itu. Tidak ada seremoni, tidak ada wisuda, hanya proses panjang yang menempa.

Pelatihan ini tidak hanya berhenti pada 20 hari saja, melainkan riyadlah ini harus kontimuitas kita lakukan dan nilai-nilai yang ditempa di barak akan menetap sebagai ingatan moral. Inilah agama yang memanusiakan—agama yang tidak berhenti pada ritual, tetapi menjelma menjadi etos hidup.

Kehidupan petugas haji laiknya manusia bersimpuh di Arafah, sebagaimana Arafah adalah momen kesadaran manusia sebagai manusia, tanpa identitas buatan: ras, jabatan, negara, atau kelas sosial. Di Arafah, manusia kembali menjadi manusia.

Pada akhirnya, barak petugas haji bukan sekadar tempat istirahat. Ia adalah madrasah kemanusiaan tanpa papan nama. Di sanalah petugas PPIH angkatan pertama dilatih—bukan untuk menjadi lebih suci dari yang lain, tetapi kembali pada martabat dasarnya sebagai manusia untuk memuliakan manusia yang menjadi dluyufurrahman (para tamu agung sang Khaliq).

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB

Krapyak

Selasa, 21 April 2026 | 22:32 WIB
X