khazanah

Barak Petugas Haji Adalah Madrasah Kemanusiaan Tanpa Papan Nama

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:27 WIB

 

Oleh Rikal Dikri (PPIH Kementerian Haji dan Umrah Angkatan Pertama)

Haji sering dipahami sebagai puncak kesalehan individual. Ia dibayangkan sebagai perjalanan spiritual yang khusyuk, penuh doa, dan sarat simbol kesucian. Namun pemahaman itu menjadi tidak utuh ketika kita melupakan satu ruang penting dalam ekosistem haji saat ini; barak petugas haji. Tempat ini tidak menawarkan kenyamanan, apalagi romantisme spiritual. Tetapi justru di sanalah, petugas haji meriyadlahkan diri untuk meningkatkan kejujuran, kedisiplinan, dan mu'awanah (saling menolong) sebagai proses pemanusiaan manusia.

Barak petugas haji adalah ruang tanpa privilese. Di sana, gelar akademik tidak memperluas ruang tidur. Jabatan struktural tidak memperpendek antrean kamar mandi. Semua bertemu dalam kelelahan yang sama. Pierre Bourdieu menyebut situasi semacam ini sebagai symbolic leveling, ketika modal simbolik runtuh dan manusia kembali pada status dasarnya: makhluk yang terbatas, saling bergantung, dan saling membutuhkan, inilah gambaran manusia nanti di padang Arafah dan Mahsyar.

Dalam perspektif dramaturgi Erving Goffman, kehidupan sosial adalah panggung tempat manusia memainkan peran. Namun barak petugas haji adalah runtuhnya panggung itu. Tidak ada ruang untuk pencitraan. Tubuh yang letih, emosi yang menipis, dan tanggung jawab yang menumpuk memaksa manusia tampil apa adanya. Di titik ini, yang diuji bukan kepatuhan formal, tetapi kedewasaan moral.

Kesabaran di barak bukan konsep normatif seperti yang tertulis dalam buku-buku akhlak dan tasawwuf. Ia hadir dalam bentuk yang sangat konkret: kurang tidur, jadwal yang berubah tiba-tiba, kebersamaan yang harus tetap terjaga dan saling mengingatkan sesama tim kerja. Kondisi seperti ini kita pahami sebagai ruang kebebasan terakhir manusia: kebebasan memilih sikap di tengah keadaan yang tidak bisa dipilih. Petugas haji mungkin tidak bisa memilih situasi, tetapi selalu bisa memilih respons.

Sudah memang sepantasnya, petugas haji menjalankan ibadah dengan cara yang sering kali “menghilangkan” ibadah personalnya. Ketika jemaah menuju Masjidil Haram, petugas memastikan jalur aman. Ketika jemaah beristirahat, petugas berjaga. Di sini, ibadah tidak lagi diukur dari jumlah ritual yang dilakukan, tetapi dari kualitas pengorbanan. Erich Fromm menyebut ini sebagai cinta produktif: memberi tanpa tuntutan balasan. Dalam doktrin yang kami pegang dari para mentor dan fasilitator "Tugasku Ibadahku" bukan "Berhaji Tujuanku".

Pernyataan Menteri Haji dan Umrah RI, Gus Irfan, bahwa petugas harus mengutamakan jemaah dan “jangan kepikiran nebeng haji”, adalah penegasan etika yang penting. Ia bukan sekadar imbauan administratif, melainkan penetapan menhaj—jalan moral—bagi petugas haji. Pesan ini menegaskan hierarki nilai: keselamatan, kenyamanan, dan martabat jemaah berada di atas kepuasan ritual personal.

Dalam sosiologi agama, posisi petugas haji berada di wilayah liminal (ambang batas)—di antara pelaku ritual dan pengelola sistem. Victor Turner mengingatkan bahwa ruang liminal rawan godaan ego. Tanpa niat yang lurus, pelayanan mudah bergeser menjadi privilese. Barak petugas haji adalah ruang pengunci niat itu, tempat setiap orang diuji apakah benar-benar hadir sebagai pelayan, bukan penumpang.

Di era modern yang memuja kenyamanan dan hak individual, barak petugas haji tampil sebagai kritik kultural. Zygmunt Bauman menyebut masyarakat kita sebagai liquid society, rapuh menghadapi ketidaknyamanan dan cepat mengeluh. Barak justru melatih keteguhan: hidup dalam keterbatasan tanpa kehilangan empati, bekerja tanpa menuntut pengakuan.

Pengalaman di barak juga membentuk empati struktural. Petugas berhadapan langsung dengan jamaah lansia, sakit, tersesat, atau panik. Empati semacam ini tidak lahir dari seminar atau modul pelatihan. Carl Rogers menegaskan bahwa empati sejati tumbuh dari unconditional positive regard—penerimaan tanpa syarat terhadap sesama manusia dalam kerentanannya.

Secara sosiologis, kehidupan di barak menciptakan solidaritas yang autentik. Yang sering kita sebut sebagai solidaritas mekanik: ikatan sosial yang lahir dari kesamaan nasib dan tujuan. Solidaritas ini tidak dibangun oleh insentif, melainkan oleh kesadaran kolektif bahwa pelayanan hanya mungkin berjalan jika ego pribadi diredam.

Barak juga merupakan ruang disiplin sosial. Tidak semua kebutuhan bisa dipenuhi, tidak semua keluhan bisa segera diselesaikan, pun pengendalian diri sebagai fondasi etika sosial yang memungkinkan sebuah sistem bertahan. Tanpa disiplin, pelayanan haji akan runtuh oleh tuntutan individual.

Dalam kondisi lelah ekstrem, bahaya terbesar bukan kesalahan teknis, melainkan kelelahan moral. Hannah Arendt menyebutnya banality of evil: kejahatan yang lahir dari ketidakpedulian yang dianggap wajar. Barak petugas haji justru menjadi ruang latihan untuk tetap peduli ketika peduli terasa berat. Dalam hal ini bisa kita artikan bahwa ukuran keberagamaan bukanlah intensitas ritual, melainkan kualitas akhlak. Barak petugas haji menjadi cermin yang jujur: apakah seseorang masih mampu bersikap lembut ketika lelah, adil ketika tertekan, dan jujur ketika tidak diawasi.

Halaman:

Tags

Terkini

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB

Krapyak

Selasa, 21 April 2026 | 22:32 WIB