Jawaban influencer sering: "Kamu belum pernah ke Suriah, kan?"
Ini bukan argumen. Ini cara mematikan kritik dengan gengsi.
Padahal logikanya sederhana: kebenaran tidak datang dari lokasi kaki berdiri, tapi dari kemampuan membaca konteks.
8. Kesimpulan
Perjalanan bukan ilmu. Foto bukan analisa. Kesan pribadi bukan geopolitik.
Fenomena "ada sebagian influencer" yang memonopoli narasi Suriah karena pernah ke sana adalah hasil dari: prestige bias, exotic authority bias, halo effect, confirmation bias, dan groupthink.
Akhirnya publik lebih percaya gambar daripada sejarah.
Lebih percaya cerita daripada data.
Lebih percaya perjalanan daripada pemahaman.
Padahal Suriah, dengan segala kompleksitasnya, tidak bisa disederhanakan menjadi: "Saya pernah ke Suriah. Jadi saya paling benar".***