khazanah

'Pernah ke Suriah' Bukan Ijazah Geopolitik: Membedah Bias Influencer di Media Sosial

Sabtu, 15 November 2025 | 16:03 WIB
Ilustrasi, menilik fenomena media sosial di Indonesia di mana influencer yang pernah ke Suriah dianggap sebagai otoritas geopolitik Timur Tengah. (Unsplash.com/Mahmoud Sulaiman)

Jawaban influencer sering: "Kamu belum pernah ke Suriah, kan?"

Ini bukan argumen. Ini cara mematikan kritik dengan gengsi.

Padahal logikanya sederhana: kebenaran tidak datang dari lokasi kaki berdiri, tapi dari kemampuan membaca konteks.

Baca Juga: Blak-blakan Bashar Al Assad dalam Wawancara Tahun 2016: Qatar, Turki, dan Arab Saudi Biayai Pemberontak Suriah

8. Kesimpulan

Perjalanan bukan ilmu. Foto bukan analisa. Kesan pribadi bukan geopolitik.

Fenomena "ada sebagian influencer" yang memonopoli narasi Suriah karena pernah ke sana adalah hasil dari: prestige bias, exotic authority bias, halo effect, confirmation bias, dan groupthink.

Akhirnya publik lebih percaya gambar daripada sejarah.

Lebih percaya cerita daripada data.

Lebih percaya perjalanan daripada pemahaman.

Padahal Suriah, dengan segala kompleksitasnya, tidak bisa disederhanakan menjadi: "Saya pernah ke Suriah. Jadi saya paling benar".***

Halaman:

Tags

Terkini

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB

Krapyak

Selasa, 21 April 2026 | 22:32 WIB

Muslihat AS Menyerang Iran

Selasa, 14 April 2026 | 17:11 WIB