Yang benar adalah: "Beginilah potongan Suriah yang saya lihat".
Dan itu tidak bisa dijadikan fondasi geopolitik.
5. Banyak influencer bukan analis politik, tapi diberi panggung seperti diplomat senior
Sebagian influencer itu sebenarnya: relawan medis, kurir bantuan, dokumenter singkat, atau konten kreator kemanusiaan.
Itu pekerjaan yang mulia. Tapi itu tidak otomatis berarti: mengerti politik Ankara-Moskow, paham transisi PBB, tahu hubungan Iran-Suriah-Hizbullah, bisa membaca manuver milisi, mengerti struktur HTS, atau mampu menjelaskan fase pasca-Assad.
Kadang mereka punya cerita, tapi tidak punya kerangka analitis.
Publik sering lupa membedakan keduanya.
6. 'Aura lapangan' membuat publik menghentikan kritik
Begitu influencer berkata: "Saya melihat Suriah dengan mata kepala sendiri."
Komentar langsung padam. Argumen langsung tunduk. Publik merasa tidak punya hak mengkritik.
Padahal analisis geopolitik bukan soal siapa yang pernah ke mana, tapi siapa yang mengerti peta besar sejarah dan kepentingan.
Seorang diplomat yang belum pernah ke Suriah lebih paham kondisi Suriah daripada influencer yang pernah promosi sembako di Idlib.
7. Yang paling fatal, status "pernah ke Suriah" sering berubah menjadi tameng anti-kritik
Ketika ada orang yang bertanya: "Benarkah HTS berubah ideologi? Benarkah faksi A diterima warga? Benarkan Jolani visinya untuk negara?"