Apa yang lakukan Gus Dur dalam menyikapi Soeharto itu mengingatkan pada satu kata bijak, “Cintailah kekasihmu dengan cinta biasa, karena boleh jadi satu saat kekasihmu itu menjadi musuhmu. Bencilah musuhmu dengan benci yang biasa, karena boleh jadi musuhmu itu akan menjadi kekasihmu”.[]