khazanah

SOEHARTO DI ANTARA KONTRIBUSI DAN KONTROVERSI

Minggu, 9 November 2025 | 18:05 WIB

Ketiga, penyelesaian G 30 S PKI. Lepas dari beragam penafsiran atas peristiwa G 30 S PKI, ada tiga tokoh yang pada saat itu cukup menonjol dan terlibat aktif dalam menyelesaikan peristiwa itu, yaitu Jenderal Abdul Haris Nasution, Sarwo Edi, dan Soeharto. Pada saat itu, PKI adalah dalang yang membantai 7 jenderal dalam asumsi dan infromasi yang berkembang. Jasad 7 jenderal itu ditemukan di lubang buaya. Yang terlibat diseret ke persidangan Mahmilub. Gelombang massa berdemo menuntut bubarkan PKI, dan semua yang terlibat di-Mahmilub-kan, bahkan Bung Karno sekali pun.

Dalam catatan sejarah—yang kembali disampaikan oleh Mahfudz MD dalam salah satu ceramahnya—bahwa Soeharto berbicara kepada Bung Karno agar membubarkan PKI. Jika Bung Karno bersedia membubarkan PKI, maka presiden masih tetap dipegang Bung Karno, dan Soeharto akan meyakinkan massa bahwa tuntutannnya telah dipenuhi. Tetapi ternyata Bung Karno tidak mau membubarkan PKI, yang membuat Soeharto memilih pilihan taktis untuk menyelamatkan kondisi bangsa, yaitu menyarankan agar presiden diganti oleh Jenderal AH Nasution untuk sementara. Nasution menolak, karena dalam kondisi kritis presiden harus dari Jawa, sedangkan dirinya adalah orang Batak. Akhirnya Soeharto menjadi presiden sementara. Soeharto bersedia menjadi presiden hanya 1 tahun saja sebelum mengadakan Pemilu. Setelah Pemilu, Soeharto tidak bersedia lagi menjadi presiden dan presiden dikembalikan lagi ke Bung Karno.

Menurut informasi resmi, Bung Karno diamankan dan diistirahatkan di rumahnya untuk menghindari amuk massa, sampai akhirnya wafat dengan tenang.     

Kontribusi Soeharto pasca G 30 S PKI adalah stabilitas keamanan dan memulihkan ekonomi. Keberhasilan Soeharto dalam menyelesaikan G 30 S PKI. Sehingga dikatakan bahwa, Soekarno penggali Pancasila dan Soeharto penyelamat Pancasila.

Sedangkan kontribusi Soeharto pada saat menjadi presiden bisa dilihat dari program-program yang direalisasikan. Di antaranya yaitu penguatan ekonomi, stabilitas keamanan, pembangunan infrastruktur, pertanian yang menghasilkan swasembada pangan, transmigrasi, KB (Keluarga Berencana) untuk menekan angka penduduk, SD Impres, wajib belajar 9 tahun, penguatan ideologi Pancasila dengan penataran P 4 dan PMP (Pendidikan Moral Pancasila), dan lain-lain.

Yang paling terlihat dalam memilih menteri-menteri sebagai pembantunya, Soeharto menggunakan meritokrasi, berbasis keahlian, bukan berbasis pilihan politik. Sehingga, hampir semua program berjalan dengan baik. Sebab dipegang oleh ahlinya.

 

Kontroversi

Selain memiliki kontribusi terhadap bangsa ini cukup banyak, Soeharto pun merupakan sosok yang tak lepas dari kontroversi. Di antara Kontroversi Soeharto  ialah soal G 30 S PKI. Sebagian sejarawan menafsirkan bahwa G 30 S PKI adalah bagian dari operasi kudeta merangkak yang dilakukan Soeharto kepada Soekarno. Sebab berdasarkan keteraangan letkol latief dalam sidang Mahamilu bahwa dirinya telah melaporkan kepada Soeharto akan adanya operasi penculikan 7 jenderal yang akan mengkudeta Bung Karno. Jadi, peristiwa pembantaian 7 Jenderal sepengetahuan Soeharto.

Dalam menyelesaikam persoalan G 30 S PKI Soeharto melakukan sweeping dan memenjarakan seluruh anggota dan simpatisan PKI dan Gerwani tanpa melalui proses pengadilan. Sebagian lagi dibunuh. Bahkan mereka yang simpatisan Soekarno yang notabenenya bukan PKI pun terkena imbasnya. Ada yang dicobloskan ke penjara dan ada yang dibunuh.

Kontroversi Soeharto setelah menjabat sebagai presiden ialah otoriter. Dia menggunakan tangan besi dengan membantai para preman dalam operasi petrus, “melenyapkan” orang-orang yang kritis, menutup kebebasan berpendapat dan suara – suara kritis seperti membredel majalah Tempo, penculikan aktivis dan buruh. Ada undang-undang Subversif untuk membungkam suara-suara kritis. Mereka yang tidak sejalan atau menentang kebijakan pemerintah dianggap Subversif.

Syahdan, semua itu dilakukan atas nama stabilitas keamanan dan ekonomi. Tetapi, semua kontroversi itu belum dibuktikan dalam pengadilan. Sehingga, masih bersifat penafsiran, analisa, dan asumsi belaka.

 Soeharto bukan iblis yang selalu salah dan bukan malaikat yang selalu benar. Soeharto adalah manusia biasa sama seperti kita dan para presiden yang lain, yang kadang benar dan kadang salah. Karena itu, kita tidak boleh menutup mata pada kontribusi-kontribusi yang diberikan Soeharto.

Gus Dur pernah berkata, “Soeharto jasanya besar, tetapi dosanya juga besar.” Artinya, Gus Dur sendiri mengakui bahwa Soeharto memiliki jasa besar, meski sebagai manusia biasa Soeharto pun punya dosa.

Meski Gus Dur mendirikan FORDEM (Forum Demokrasi) dan kritis terhadap berbagai kebijakan Soeharto, tetapi Gus Dur menerima ideologi Pancasila, UUD 45, NKRI, dan berbagai program yang dicanangkan Soeharto yang dianggapnya baik dan maslahat bagi rakyat seperti program KB dan yang lainnya. Gus Dur juga banyak bercerita kalau Gus Dur terkadang bertemu, ngopi dan makan bersama Soeharto. Sehingga pada saat itu, langkah-langkah Gus Dur disebut sebagai oposisi loyal.

Halaman:

Tags

Terkini

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB

Krapyak

Selasa, 21 April 2026 | 22:32 WIB

Muslihat AS Menyerang Iran

Selasa, 14 April 2026 | 17:11 WIB