Pikiran itu tidak hanya inovatif secara manajemen, tetapi juga radikal secara teologis. Ia mengubah paradigma bahwa nilai ibadah bukan hanya di tempat suci, tapo melihat asas kemaslahatan dan kemanfaatannya. Haji, dalam tafsir Gus Irfan, bukan lagi perjalanan individu menuju Allah, tetapi perjalanan sosial menuju keadilan.
Dari sini terlihat bahwa reformasi haji yang ia bawa bersifat simbiotik — menyatukan manajemen dan spiritualitas. Ia memahami bahwa tanpa sistem yang bersih, ibadah bisa tercederai; dan tanpa makna yang mendalam, sistem akan menjadi sekadar mesin administratif. Dua hal itu, harus berjalan seimbang.
Ia juga memperkenalkan program manasik berbasis makna, di mana jamaah tidak hanya diajarkan tata cara haji, tetapi juga filosofi di balik setiap rukunnya. Pelatihan ini menjadi semacam sekolah ruhani yang menanamkan nilai kesabaran, solidaritas, dan kepemimpinan moral. Dengan begitu, jamaah tidak hanya “berangkat haji”, tapi “menjadi haji”.
Bagi Gus Irfan, reformasi haji bukanlah proyek jangka pendek, melainkan perjalanan peradaban. Ia memandang Ka’bah sebagai pusat etika global Islam — tempat seluruh manusia belajar tentang kesetaraan, disiplin, dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks bangsa, haji bisa menjadi laboratorium moral untuk memperbaiki tata kelola pemerintahan yang bersih dan berkeadilan.
Tidak semua pihak menyambut gagasannya dengan mudah. Ada kalangan yang menilai pendekatannya terlalu idealistik, bahkan “terlalu filosofis” untuk dunia birokrasi. Namun ia tak gentar. Ia percaya bahwa reformasi spiritual selalu dimulai dari pemikiran, bukan peraturan. Epistem harus dibenahi sebelum sistem bisa berubah.
Langkah-langkahnya perlahan menunjukkan hasil. Transparansi dana meningkat, keterlibatan lembaga pengawas berjalan efektif, dan kepercayaan publik mulai tumbuh. Namun yang paling penting, narasi tentang haji mulai bergeser — dari ritual yang statis menjadi gerakan moral yang dinamis.
Kini, setiap kali Gus Irfan berbicara tentang haji, yang ia sampaikan bukan sekadar teknis perjalanan, tetapi visi tentang peradaban dan keadaban. Ia berbicara tentang manusia yang kembali dari Mekah dengan jiwa yang lebih jujur, hati yang lebih sederhana, dan komitmen sosial yang lebih kuat.