Berbeda dengan Timur Tengah dengan proxy mereka yaitu Ikhwanul Muslimin dan sayap-sayapnya. Partai Adalah wa Tanmiyah di Maroko, Partai Elnahda di Tunisia dan Ikhwanul Muslimin di Mesir, mulai bertumbangan tidak mampu melakukan konsolidasi nasional sesuai keinginan kapitalis-liberal, bahkan digulingkan oleh kekuatan rakyat. Suriah yang terbaru. Setelah tumbangnya kekuasaan klan Al Assad pencahan klan Alawi, muncul Ahmad Al Sharaa alias Abu Muhammad Al Joulani, pemimpin Haiah Tahrir Syam sayap Al Qaeda, tetapi mendapat tekanan dari minoritas Druze di selatan dan suku-suku Kurdi Suriah di utara. Bahkan, untuk melegalkan kekuasannya, beberapa hari belakangan ini diliris nasab Ahmad Al Sharaa yang menyambung kepada Nabi Muhammad SAW. Padahal, Al Qaeda berpondasi pada teologi salafi-takfiri yang ekstrim.
Sejumlah negara di Timur Tengah saat dipimpin oleh kaum islamis justru saling mengimpor teroris, di mana mereka merasa pengiriman ke Suriah, Libya, Yaman dan Sudan adalah tugas karena difasilitasi oleh pemerintah. Pada pertengahan 2013, melalui Revolusi 30 Juni di Mesir, Bangsa Arab mulai menata kembali langkah mereka, menghadapi kaum kapitalis-liberal Barat yang selama ini dianggap mitra, akan tetapi justru menikam dan memperlemah dari belakang, melalui proxy-proxy seperti NGO-NGO asing, juga Ikhwanul Muslimin yang ketika berkuasa tidak mampu mengkonsolidasikan elemen-elemen politik, bahkan elemen salafi moderat sekalipun.
Selain itu, perbedaan mendasar antara Indonesia dengan negara-negara Arab adalah, di Indonesia tidak ada elemen kekuatan lain selain elemen-elemen nasionalis yang solid dalam mengelola negara. Setidaknya ini yang akan membuat pusing George Soros, kepada siapa nanti kepentingan kalangan kapitalisme-liberal di Indonesia akan bergantung, jika tidak kepada Presiden Prabowo Subianto, di tengah kesiapan korporasi-korporasi China dan bahkan Rusia, siap menggantikan peran dan kepentingan mereka.
Dalam beberapa hari ke depan, saya meyakini, kalangan kapitalis-liberal Barat akan mencari akses kepada Presiden Prabowo Subianto agar kepentingan ekonomi mereka tetap terjaga di Indonesia. Menggunakan NGO dan LSM untuk kembali Presiden Prabowo Subianto, justru akan mengulang kesalahan mereka. Satu-satunya cara bagi mereka adalah melakukan deal langsung dengan Presiden Prabowo Subianto yang posisinya semakin kuat di depan mereka, karena dukungan elemen-elemen politik yang semakin solid, terkhusus dari kalangan TNI dan Polri.