Dalam sambutannya, Prof. AM Hendropriyono menegaskan urgensi moral manifesto ini:
“Intelijen sejati bukanlah seni menipu, melainkan seni menjaga kebenaran. Jika intelijen kehilangan etika, ia berubah menjadi senjata yang membunuh nurani manusia. Manifesto ini adalah seruan agar dunia mengingat kembali bahwa kebenaran adalah satu-satunya senjata terakhir yang layak dipertahankan.”
Seruan bagi Dunia yang Beradab
Manifesto ini mengingatkan kita pada satu hal mendasar: kebenaran bukan sekadar alat politik, melainkan fondasi peradaban. Ketika intelijen dipersenjatai dengan hoaks dan disinformasi, masyarakat dunia sesungguhnya sedang diarahkan menuju jurang ketidakpercayaan dan kehancuran moral.
Sebaliknya, ketika intelijen dibingkai dalam filsafat, ia menjadi penjaga nurani global—membangun dunia yang damai, adil, dan berkelanjutan.
Jalan Panjang ke Depan
Apakah manifesto ini akan benar-benar diinternalisasi oleh negara-negara? Jawabannya bergantung pada keberanian kita semua untuk mengakui bahwa krisis intelijen bukan hanya soal metode, tetapi soal etika. Deklarasi di Yogyakarta ini hanyalah awal; perjalanan panjang masih menanti untuk menjadikan filsafat intelijen sebagai disiplin akademik, pilar kebijakan, dan benteng peradaban.
Sejarah akan mencatat bahwa pada suatu hari di Yogyakarta, para pemikir menyalakan kembali api moralitas bagi dunia intelijen. Pertanyaannya kini menggantung di udara: apakah dunia akan berani menyalakan obor kebenaran itu, atau justru memilih tetap hidup dalam gelapnya kebohongan?