Mush’ab Muqoddas, Lc
Alumni Jurusan Sejarah Universitas Al Azhar Mesir
Pengamat Terorisme di Timur Tengah
Beberapa waktu lalu, di tengah pertempuran Iran dan Israel, kita dikejutkan serangan Israeli Defense Force (IDF) atas sejumlah objek vital di Damaskus, ibukota Suriah. Serangan itu disebut sebagai respon atas kerusuhan yang hampir menjadi konflik sektarian antara Arab Badui yang berakidah Sunni dengan komunitas Druze, yang diklaim oleh Israel berada di dalam perlindungan Israel.
Apa itu Druze ? Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa Druze adalah pecahan Syiah Isamiliyah, pengikut Hasyatkin al-Darazi yang merupakan sekutu penguasa Dinasti Fathimiyah Syiah Al Hakim Biamrillah yang dianggap sebagai tuhan, dan mengklaim bahwa Muhammad bin Ismail telah menghapuskan Syariat Islam yang ditirunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Dalam sejarah modern, Druze merupakan salah satu sekutu Israel. Jumlah pemilih dari Druze pada pemilu Israel yang terakhir di tahun 2022 diperkirakan sekitar 200.000 jiwa. Mereka menyalurkan suara mereka kepada Partai Likud, partai penguasa beraliran liberal kapitalis atau yang sering disebut dalam istilah di kamus-kamus politik sebagai sayap kanan, yang saat ini beraliansi dengan elemen-elemen zionis ekstrimis dan rasis untuk menutupi kasus korupsi PM Israel Benjamin Netanyahu dengan perang melawan Iran, genosida atas Gaza Palestina dan penggusuran atas Tepi Barat Palestina.
Sejarah juga mencatat bahwa dalam Perang Arab-Israel, Druze berada di pihak Israel, seperti pada Perang 1967, Perang 1973, hingga Perang Israel-Lebanon tahun 1982. Sejumlah tokoh Druze yang pernah memegang posisi politik penting, termasuk mantan menteri dan anggota Knesset, Parlemen Israel di antaranya adalah Ayoub Kara, Saleh Tarif, Majli Wehbe, dan Shakib Shanan. Tingkat wajib militer di kalangan pemuda Druze sekitar 80%, dan banyak yang bertugas di unit tempur dan unit intelijen, termasuk di Angkatan Udara IDF.
Di atas adalah ulasan tentang Syiah di Israel. Lalu bagaimana dengan Yahudi di Iran ?
Setelah Ayatollah Khomeini berhasil menggulingkan rezim Dinasti Syah Pahlevi yang juga beraliran Syiah, salah satu tokoh Yahudi Iran yaitu Habib Elghanian dieksekusi, menandai titik balik dalam sejarah keberadaan Yahudi modern di Iran. Habib Elghanian adalah pemimpin minoritas Yahudi dan salah satu pedagang Yahudi terbesar yang berkontribusi dalam membangun ekonomi Iran selama pemerintahan Shah. Ia adalah orang pertama yang memperkenalkan industri plastik ke Iran, dan memiliki proyek-proyek besar antara Iran dan Israel. Alasan Habib Elghanian dieksekusi adalah karena bekerja untuk Israel dan organisasi-organisasi Zionis. Peristiwa ini mengejutkan rakyat Iran pada umumnya, dan Yahudi pada khususnya, serta menimbulkan banyak kekhawatiran di kalangan Yahudi Iran.
Di tengah meningkatnya ketakutan setelah Revolusi Islam, Yahudi Iran memutuskan bahwa mereka perlu bertemu dengan Ayatollah Khomeini untuk menentukan masa depan mereka di bawah Republik Islam Iran yang berkonsep Wilayatul Faqih. Para pemimpin minoritas Yahudi bertemu dengan Ayatollah Khomeini di Qom. Pertemuan ini mendorong Ayatollah Khomeini untuk mengeluarkan fatwa yang terkenal dan mendesak perlindungan orang-orang Yahudi di Iran dan mencegah serangan terhadap mereka. Ayatollah Khomeini menyatakan bahwa orang Yahudi Iran adalah keturunan Nabi Musa AS dan tidak memiliki hubungan dengan Zionis Israel.