khazanah

Studi Lapangan Perang Iran-Israel: Implikasi dan Ancaman atas Dunia Internasional di Masa Depan

Minggu, 13 Juli 2025 | 14:41 WIB
Mayjen (Purn) Mahmuh Al Nathour dan Almarhum Yaser Arafat. Saat kepemimpinan Yaser Arafat, Mahmud An Nathour adalah Direktur Bidang Keamanan Khusus Badan Keamanan Nasional Palestina (Mush'ab Muqoddas)

Oleh karena itu, perkiraan menunjukkan bahwa konflik akan berlanjut, dengan kemungkinan mengubah dinamika peperangan tradisional. Namun, hal ini tidak akan menghilangkan risiko eskalasi regional, karena kemungkinan kesalahan perhitungan strategis dapat menyebabkan peningkatan eskalasi konflik.

Serangan yang menargetkan fasilitas nuklir Iran kemungkinan tidak akan menjadi titik balik strategis dalam perjalanan program nuklir Iran. Keberhasilan taktis operasi ini tidak menyembunyikan fakta bahwa program ini telah mencapai tahap pengembangan. Hal ini menyulitkan untuk menghentikannya melalui aksi militer. Serangan militer dapat mempercepat pergeseran Teheran menuju ambang batas nuklir, yang mengancam akan menjerumuskan kawasan tersebut ke dalam pola pencegahan yang tidak stabil, yang diselingi oleh ketidak-seimbangan yang dapat meluas hingga melemahkan keseimbangan keamanan regional.

Trump akan berupaya menekan Iran untuk kembali berunding guna mencapai perjanjian nuklir baru yang menjamin pencegahan Iran terhadap pembangunan kembali proyek nuklirnya. Perjanjian ini akandimediasi oleh Rusia dan disponsori oleh Kesultanan Oman, yang akan menyelesaikan kebuntuan saat ini dengan penyelesaian yang dapat diterima dan kompromi antara tuntutan Washington untuk tidak melanjutkan pengayaan dan posisi Teheran yang menjunjung tinggi hak pengayaan. Barter akan dilanjutkan setelah masing-masing pihak menetapkan batas sesuai visinya dalam keseimbangan, kejutan, dan kesepahaman untuk menata kembali kawasan tersebut. Ada kemungkinan Iran akan menolak untuk kembali berunding.

Israel belum mencapai tujuan perangnya, baik untuk menggulingkan rezim Iran maupun menghancurkan proyek nuklirnya. Sementara itu, Iran telah berhasil meredam guncangan awal dan melancarkan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap kota-kota Israel.

Jelaslah bahwa Iran tidak memiliki kemampuan untuk menghentikan serangan Israel dan hanya memiliki sedikit pilihan untuk memperluas konflik. Israel tidak memiliki kemampuan untuk menghentikan rudal Iran, dan Netanyahu tidak memiliki mandat untuk perang jangka panjang yang akan berdampak pada keamanan regional dan ekonomi global. Dilema yang tersisa adalah bagaimana menerjemahkan keunggulan taktis ini menjadi keuntungan strategis dan stabilitas regional.

Keputusan gencatan senjata memberi Iran dan Israel kesempatan untuk menyusun kembali kekuatan. Namun, tidak adanya kesepakatan tertulis menunjukkan kemungkinan konfrontasi militer baru di waktu dekat. Hal ini menjadikan gencatan senjata sebagai tujuan sementara, didorong oleh keinginan Washington untuk mengizinkan Israel meninjau sistem pertahanannya setelah kegagalan dan ketidakmampuannya dalam melawan rudal Iran.

Ketenangan saat ini dapat dianggap sebagai masa reposisi, bukan cerminan stabilitas, melainkan persiapan untuk gerakan yang tersinkronisasi oleh semua pihak, sambil menunggu hasil negosiasi mendatang, yang diperkirakan akan berkisar pada masa depan proyek nuklir Iran, rudal balistik, proxy-proxy Iran, dan pengaruh regional Iran.

Amerika memiliki pengaruh dan sedang menunggu waktu yang tepat untuk menggunakannya. Solusi yang mungkin adalah kembali berunding dengan Rusia dan Tiongkok. Semua pihak kini berada dalam posisi untuk memulai putaran kedua pertempuran.

Oleh karena itu, Trump telah mengusulkan rencana perdamaian untuk meredakan melalui negosiasi dengan Iran. Rencana ini mencakup mencairkan beberapa aset Iran yang disita seninai USD  6 Milyar kepada Pemerintah Iran, memungkinkan pencabutan segera beberapa sanksi, dan menawarkan bantuan kepada Iran dalam membangun kembali program nuklirnya agar sepenuhnya bertujuan damai.

Presiden Trump berupaya menerapkan kesepakatan-kesepakatan komprehensif dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah, berdasarkan visi yang ia sampaikan beberapa tahun lalu yaitu Abraham Accord serta mempercepat pembentukan rute perdagangan internasional baru untuk mengangkut minyak dari Teluk Arab ke Eropa.

Perang yang sedang berlangsung, ancaman penutupan Selat Hormuz, dan gangguan atas navigasi di Laut Merah telah memperkuat perlunya hal ini. Mempercepat pembentukannya. Rencana-rencana ini, dalam perspektif yang lebih luas, membutuhkan perluasan lingkaran normalisasi di kawasan antara Israel dan negara-negara Arab dan Islam, yang fokus selanjutnya adalah Arab Saudi dan Suriah. Hal ini membutuhkan tercapainya de-eskalasi dalam konflik Palestina-Israel dengan cara menyingkirkan Hamas dan PM Israel Banjemin Netanyahu beserta elemen-elemen politik sayap kanan dari panggung politik Israel, termasuk mereformasi Otoritas Palestina.

Gagasan perdamaian Presiden Trump berbenturan dengan konflik di dalam pemerintahan AS antara pusat-pusat kekuatan yang berpengaruh. Kelompok-kelompok lobi Zionis yang berafiliasi dengan perusahaan senjata dan minyak, yang didukung oleh lobi-lobi Zionis dan kelompok-kelompok evangelis pro-Israel, mendorong dimulainya kembali perang terhadap Iran, menghalangi negosiasi, dan terus memberikan dukungan tanpa batas kepada Israel untuk memastikan hegemoni regionalnya di Timur Tengah.

Eskalasi konflik ini juga mengancam nyawa Presiden Trump dan gagasan besarnya, America First.

 

Halaman:

Tags

Terkini

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB

Krapyak

Selasa, 21 April 2026 | 22:32 WIB

Muslihat AS Menyerang Iran

Selasa, 14 April 2026 | 17:11 WIB