Bung Karno dalam pidatonya di Muktamar Muhammadiyah di tahun 1962 menyebutkan bahwa pemikiran KH Ahmad Dahlan adalah regeneration dan rejuvenation Islam, di mana adanya pertautan antara pemahaman Agama Islam dengan kemajuan suatu masyarakat dan bangsa. Watak modernisasi dan moderasi menjadi salah satu pondasi pemikiran Bung Karno, yang berusaha menjaga rasa persatuan dan rasa persaudaraan sesama anak Bangsa Indonesia.
Watak modernisasi dan moderasi ini juga ditularkan oleh Bung Karno kepada para pemimpin dunia internasional, seperti Nkrumah di Ghana, Nasser di Mesir, Nehru di India, dan Tito di Yoguslavia. Mereka menolak keras kolonialisme, tetapi tidak anti dengan modernisasi yang dibawa oleh kolonialisme. Tetapi, penjajahan adalah musuh bersama bagi mereka. Bahkan, jalan perjuangan mereka adalah jalan perjuangan yang moderat dan dialog.
Jika dialog tidak diindahkan, mereka bereaksi dengan kekuatan militer. Tentunya, tujuan dari dialog itu adalah menghindari pertempuran dan jatuhnya korban jiwa yang tidak berdosa.
Bung Karno lahir pada 6 Juni 1901, juga disebut sebagai Putra Sang Fajar, yang lahir di awal abad ke-20 yang nantinya akan mengubah peta geopolitik dunia. Ideologinya yang dinamakan marhaenisme, memiliki salah satu pondasi yang menyangganya, yaitu Islam Progresif, atau yang sering disebut Islam Berkemajuan, gagasan yang selalu disebarkan oleh Muhammadiyah, tidak hanya ditanamkan di Indonesia, akan tetapi di seluruh dunia.