khazanah

Nyai Nafisah: Jejak Pejuang Sang Ibu Bangsa dari Kajen

Minggu, 18 Mei 2025 | 09:18 WIB

Dengan teguh beliau menanamkan pentingnya pendidikan formal bagi santri perempuan sebagai bekal memperluas cakrawala berpikir tanpa meninggalkan akhlakul karimah. Nyai Nafisah menunjukkan bahwa pesantren bukan hanya pusat keilmuan Islam, tetapi juga ruang emansipasi intelektual bagi perempuan muslimah.

Di ranah politik, jejak langkahnya tak kalah mencengangkan. Nyai Nafisah tercatat pernah sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kabupaten Pati, bahkan melangkah ke tingkat nasional sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI).  Dalam forum-forum tersebut, beliau menyuarakan aspirasi dunia pesantren, memperjuangkan nilai-nilai pendidikan yang berbasis nilai moral, serta membela hak-hak keluarga, perempuan, dan komunitas akar rumput.

Di ranah organisasi sosial keagamaan, kiprah keulamaan dan pengabdian sosial beliau juga terlihat dalam peran strategisnya di Muslimat NU. Nyai Nafisah tercatat pernah menjabat ketua Pimpinan Cabang Muslimat NU kabupaten Pati, ketua Pimpinan Wilayah Muslimat NU provinsi Jawa Tengah, Dewan Pakar Pengurus Besar Muslimat NU, dan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Dalam semua posisi tersebut, Nyai Nafisah konsisten menggerakkan perempuan agar mandiri, berdaya, dan percaya diri hadir di ruang publik tanpa kehilangan identitas keislaman dan kesantunan moral. Beliau juga terlibat dalam penguatan kapasitas perempuan di bidang pendidikan, kesehatan keluarga, dan pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas.

Siapa sangka, di balik kiprah intelektual dan aktivitas sosialnya yang padat, Nyai Nafisah juga merupakan sosok penggerak ekonomi keluarga. Beliau tidak hanya menginspirasi dari mimbar dakwah dan ruang organisasi, tetapi juga turu langsung membangun kemandirian ekonomi melalui berbagai usaha. Mulai dari menjahit, membuat kerajinan dinding berbahan strimin, menyewa lahan pertanian, hingga membuka usaha pakaian jadi, perlengkapan haji dan umroh, perhiasan emas, serta kebutuhan pokok harian.

Semua itu dikelola dengan semangat kemandirian dan keikhlasan, menjadikan rumah beliau tak hanya sebagai pusat ilmu dan nilai, tetapi juga sebagai basis ketahanan ekonomi keluarga dan komunitas.

Nyai Nafisah dapat hadir sebagai seorang ulama perempuan, wirausahawan, sekaligus aktivis organisasi sosial keagamaan bukan hanya karena posisinya sebagai istri seorang ulama besar. Kiprahnya membuktikan bahwa perempuan dalam tradisi pesantren bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi yang menopang peradaban.

 

 

Halaman:

Tags

Terkini

KH. Imam Jazuli di Antara Kenyataan dan Kritikan

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:28 WIB

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB