Nafi’atul Ummah
Kader Muda Nahdlatul Ulama (NU)
Pesantren yang dulunya mendapat julukan institusi patriarkal ternyata menyimpan ruang-ruang subur untuk tumbuhnya kepemimpinan perempuan. Hal ini ditunjukkan oleh hadirnya tokoh-tokoh perempuan santri di tingkat nasional yang kian menonjol. Seperti Khofifah Indar Parawansa, Alissa Wahid, Yenny Wahid, dan juga Ida Fauziyah.
Jika dilihat dengan semangat keadilan dan inklusivitas, kemunculan tokoh-tokoh perempuan dari latar belakang pesantren mampu menjadi medan emansipasi yang kuat. Hal ini membuktikan bahwa agama tidak menghalangi perempuan untuk maju, tetapi justru menjadi alasan kuat untuk berkiprah.
Fenomena yang tergambar ini merupakan hasil akumulasi panjang dalam sejarah perjuangan perempuan pesantren. Salah satu jejak penting dari perjuangan tersebut bisa kita telusur lewat sosok Nyai Hj. Dra. Nafisah Binti KH. Abdul Fattah atau lebih dikenal sebagai Nyai Nafisah Sahal.
Nyai Hj. Dra. Nafisah Sahal lahir di Jombang, 8 Februari 1946. Beliau adalah putri dari KH. Abdul Fattah Hasyim dan Nyai Hj. Musyarofah Bisri. Kedua orang tua beliau merupakan pendiri Pondok Pesantren Putri al Fathimiyyah dan Madrasah Mu’allimin Mu’allimat di Tambakberas, Jombang.
Nyai Nafisah bukan sekedar istri dari KH. Sahal Mahfudz, tokoh besar Nahdlatul Ulama (NU) dan Ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Beliau merupakan pribadi dengan integritas keilmuan, keberanian sosial, dan ketekunan dakwah yang berdiri sendiri.
Di tengah zaman ketika akses perempuan terhadap pendidikan masih terbatas, beliau telah menembus sekat-sekat struktural hingga meraih pendidikan di perguruan tinggi. Hal ini bukan hanya pencapaian individu, melainkan representasi dari terbukanya ruang kontribusi perempuan dalam tradisi pesantren yang dinamis dan visioner.
Lebih dari itu, kehadiran Nyai Nafisah bukan hanya pelopor pendidik dan penggerak sosial dari Kajen, melainkan juga figure ibu bangsa yang layak dikenang dalam peta sejarah perempuan pesantren Indonesia. Bersama sang suami, beliau tidak hanya menjadi mitra rumah tangga, tetapi juga mitra perjuangan, menyuarakan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin dari desa hingga pusat kekuasaan.
Aktivitas dan Medan Juang Nyai Nafisah
Semangat juang, keteguhan hati, dan pandangan keagamaan yang terbuka menjadikan Nyai Nafisah sebagai sosok perempuan pesantren yang langka dan berpengaruh. Setelah menetap di Kajen, Margoyoso, Pati kampung halaman sang suami, KH. Sahal Mahfudz, beliau tidak tinggal diam dalam urusan domestik semata. Justru dari tanah itu, beliau mengembangkan misi dakwah dan pengabdian sosial yang menyentuh banyak ranah pendidikan, politik, hingga organisasi sosial keagamaan.
Tutik Nurul Janah dalam Kiai Sahal & Nyai Nafisah (2022) mencatat bahwa Nyai Nafisah Sahal menorehkan kiprah luas sebagai tokoh perempuan yang menjembatani tradisi pesantren dan tuntutan zaman. Jiwa kepemimpinan dan kecintaan beliau terhadap pendidikan membuatnya menolak untuk dibatasi hanya dalam sekat-sekat rumah tangga.
Sejak usia muda, Nyai Nafisah telah menempuh jalan dakwah dengan segala suka duka. Di tengah keterbatasan akses pendidikan bagi perempuan saat itu, beliau justru tampil sebagai pelopor.
Tahun 1972, atas dukungan dari suami dan isyarat restu dari para sesepuh dalam mimpi Nyai Nafisah, beliau mendirikan pesantren putri al-Badi’iyyah (PESILBA). Tak berhenti sampai disitu, beliau juga mendirikan Lembaga Pendidikan Terpadu Sekolah An-Nismah, dan juga penggagas organisasi yang HISMAWATI (Semacam OSIS putri di Perguruan Islam Mathali'ul Falah).