Iran menganggap perjanjian nuklir 2015, yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) atau Rencana Aksi Komprehensif Bersama, antara Iran dan negara-negara besar dunia, termasuk AS, sebagai agenda yang mengandung pelajaran, tetapi masih belum memadai pada tahap ini. Iran juga menegaskan bahwa haknya untuk memperkaya uranium masih ada, tetapi kali ini Iran memasuki negosiasi dengan persiapan untuk menawarkan konsesi yang lebih besar sebagai imbalan atas pelonggaran sanksi untuk meringankan tekanan pada ekonominya yang rusak parah.
Pertimbangan ini telah menjadi prioritas di internal Iran, sampai-sampai negosiator Iran bahkan telah menggoda AS dengan melangkah lebih jauh dengan berbicara tentang kemungkinan membuka pintu bagi investasi AS di masa mendatang di bidang-bidang strategis utama bagi negara Iran, seperti proyek energi (minyak dan gas), dan bidang modernisasi teknologi untuk banyak entitas dan aktivitas yang sangat terpengaruh oleh sanksi selama bertahun-tahun. Iran ini telah mengalami keterbelakangan dan kegagalan, dan keterlibatan luas AS dalam operasi modernisasi yang luas dapat sangat menguntungkan kedua pihak di masa mendatang.
Di sini, Iran berbicara tentang kontrak strategis jangka panjang yang tidak hanya akan memajukan lembaganya secara kualitatif, tetapi juga membuka pintu ini pada tahap negosiasi yang maju ini secara praktis akan memberikan negosiator dan pemerintah AS cakrawala yang sama sekali baru untuk hubungan yang diantisipasi antara AS dan Iran. Belum lagi keuntungan yang diharapkan yang secara otomatis akan menentukan kompas delegasi negosiasi, dan di belakangnya pemerintah, yang paham betul cara membuat kesepakatan yang sukses.
Presiden Trump mengomentari lawatannya ke Roma beberapa hari yang lalu dengan mengatakan bahwa dirinya tidak menantikan serangan militer yang akan segera terjadi terhadap fasilitas nuklir Iran, dan ia menegaskan untuk kedua kalinya bahwa dirinya secara pribadi mencegah Israel melakukan aksi militer semacam itu :
"Saya tidak terburu-buru melakukannya, karena saya yakin Iran punya peluang untuk menjadi negara besar dan hidup bahagia."
Ini adalah pilihan pertama Presiden AS Donald Trump, dan dia telah menyatakan keinginannya yang kuat untuk melihatnya. Sebelum berkunjung Roma, kepala delegasi AS Witkoff, secara diam-diam di Paris bertemu dengan dengan Menteri Urusan Strategi Israel Ron Dermer, yaitu orang kepercayaan terdekat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan Direktur Dinas Intelijen Luar Negeri Israel Mossad David Barnea. Witkoff menyampaikan jaminan Presiden Trump bahwa AS berada di jalur yang benar, disertai tuntutan tegas agar Israel tidak menyabotase proses negosiasi ini dengan cara apa pun.
Diterjemahkan dari website ECSS