Pemulihan Hubungan AS-Iran yang Menakjubkan

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Kamis, 1 Mei 2025 | 09:31 WIB
Dr Brigjen Pol (Purn) Khalid Okasya
Dr Brigjen Pol (Purn) Khalid Okasya

 

Dr Brigjen Pol (Purn) Khalid Okasya

Direktur Umum Egyptian Center for Strategic Studies

 

Laporan setelah operasi militer Amerika Serikat (AS) terhadap milisi Ansharullah Houthi di Yaman belum mendeteksi adanya keterlibatan Iran yang signifikan, seperti dukungan untuk salah satu proxy terpentingnya di kawasan tersebut. Di luar itu, bahkan dukungan media Iran sebagian besar tidak ada. Gambaran tersebut seolah-olah menunjukkan adanya semacam konsensus yang telah disepakati di bawah meja bahwa operasi militer AS terus berlanjut untuk membatasi kemampuan milisi Houthi dengan cara yang pada akhirnya akan menghilangkan kemampuannya untuk mengancam navigasi internasional di Laut Merah. Sebagai syarat pengaturan untuk negosiasi AS-Iran yang terbaru berlangsung sekitar sebulan sebelum pertemuan pertama di Muscat, ibukota Oman.

Yang mengejutkan adalah, persiapan untuk keseluruhan syarat negosiasi tidak menyebutkan apa yang sedang terjadi di Yaman, seolah-olah itu adalah sesuatu yang jauh dari pembahasan negosiasi. Meskipun kebenarannya diketahui oleh semua orang, dan terutama oleh kedua belah pihak dalam proses negosiasi, bahwa ini bukanlah kenyataannya.

Jadi tampaknya, ada konsensus yang telah disahkan secara diam-diam, Houthi Yaman harus puas dengan kemampuan yang dilatih oleh Iran selama beberapa tahun terakhir, dan harus menghadapi nasibnya sendiri dalam menghadapi kampanye AS untuk melemahkan kekuatannya yang mengancam perairan internasional selama ini. Di tengah keheningan bersama ini, kita dapat menyimpulkan sejauh mana AS tidak akan bertindak lebih jauh dari sekadar menghilangkan ancaman bagi aktifitas maritimnya, tanpa mencapai penghapusan total dari situasi Yaman secara keseluruhan.

Gagasan ini belum matang, yang dapat melibatkan dilema politik dan keamanannya, yang memerlukan jalur yang lebih komprehensif dan melampaui masalah keamanan maritim. Tetapi, apa pun yang terjadi, melepaskan Iran dari masalah ini tetap merupakan langkah maju.

Seperti ini adalah pemandangan yang agak erat kaitannya dengan situasi Hizbullah di Lebanon. Meskipun pengaturan mengenai hal itu berbeda secara mendasar dari Houthi Yaman, mengingat kedekatan geografis langsung Israel. Yang terakhir terlibat lebih dalam dalam persamaan Lebanon, karena tentara Israel masih menempatkan pasukannya di Lebanon selatan dalam 5 (lima) titik daerah pos militer di daerah yang nasibnya belum disepakati.

Secara keseluruhan, pemetaan intervensi mengungkapkan bahwa situasi Yaman sepenuhnya berada di tangan AS, dengan kehadiran Israel yang terbatas dalam kapasitas proxy dan izin AS untuk bertukar informasi intelijen dengan mengenai operasi militer di sana. Situasinya terbalik antara AS dan Lebanon di front Lebanon.

Namun, jelas bahwa Iran telah mengambil langkah nyata dan efektif sebelum mendatangi Kesultanan Oman. Iran menganggapnya sebagai harga daya tawar yang dapat diterima dalam konteks menunjukkan niat baik dan membangun kepercayaan yang perlu diberikannya kepada pemerintahan Presiden AS Donald Trump 2.0.

Ibu kota Italia, Roma, menjadi tuan rumah putaran kedua negosiasi tingkat tinggi antara delegasi AS dan Iran mengenai program nuklir Iran, di tengah optimisme dengan tetap hati-hati agar memungkinkan mencapai solusi diplomatik. Namun, pernyataan dan posisi bersama yang menyusul telah menunjukkan bahwa masalah tersebut tampaknya bergeser dari sekadar kehati-hatian ke area konsensus yang lebih luas dalam dua putaran yang dipisahkan oleh waktu seminggu, dengan putaran ketiga diperkirakan akan berlangsung dalam beberapa jam.

Kesultanan Oman, yang tampaknya memiliki pengaruh yang diperlukan, telah kembali dengan semangat baru untuk memainkan peran mediator antara delegasi AS, yang dipimpin oleh Utusan Khusus Kepresidenan AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff, dengan delegasi Iran, yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, di Muscat ibukota Oman dan di kedutaan besar Kesultanan Oman di Roma ibukota Italia.

Komentar Pemerintahan Presiden AS Donald Trump menyatakan kepuasan dan optimisme, mencatat sebagai kemajuan yang sangat baik dan kesepakatan mereka untuk bertemu untuk ketiga kalinya, segera. Negosiasi di Roma ibukota Italia berlangsung selama 4 (empat) jam dengan perundingan langsung dan tidak langsung.

Smeentara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, di sisi lain, bahwa negosiasi ini lebih dari sekadar positif, karena ada kesepakatan dan pemahaman yang lebih baik mengenai beberapa prinsip dan tujuan yang diadopsi dalam perundingan Roma. Ini adalah terobosan besar dan nyata setelah hanya 2 (dua) negosiasi sebelumnya yang masing-masing berlangsung berjam-jam!

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

KH. Imam Jazuli di Antara Kenyataan dan Kritikan

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:28 WIB

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB
X