khazanah

Idrus Marham; Sang Maestro dan Ideolog Politik Golkar

Jumat, 7 Maret 2025 | 15:50 WIB
Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia dan Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham

Jika pertanyaan sulit di atas tadi, kita jawab dengan penggalan ayat Tuhan ini, maka di era supra modern ini kita diperintahkan untuk berkarya, dalam bahasa Tuhan jelas sekali itu adalah bentuk amar (perintah) yakni kata i'maluu (berkaryalah kalian). Hanya saja, yang sulit adalah, kita mengalah terhadap teknologi atau kita kuasai teknologi, maka dari itu Golkar punya semboyan filosofis yakni Karya Siaga Gatra Praja, yang dipahami secara kreatif dan dinamis sesuai dengan perkembangan zaman.

Karya Siaga adalah bentuk profesionalisme dalam tugas dan karya, Gatra Praja adalah loyalitas terhadap kekuasaan. Namun, Idrus Marham menggaris bawahi bahwa loyalitas yang dimaksud seharusnya loyalitas rasional, bukan loyalitas emosional. Loyalitas rasional, seseorang dipilih karena loyal terhadap kekuasaan dan juga produktif membangun serta bekerja secara profesional, sedangkan loyal emosional ia dipilih karena kedekatan emosional, dan ini kontra-produktif.

Mengacu pada filosofi tersebut, betapapun caranya dan bagaimana pun upayanya SDM bangsa Indonesia harus ditingkatkan sesuai amanat UUD 45 dalam frasa "mencerdaskan kehidupan Bangsa", inilah kunci problem solving untuk menuju kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran. Agar anak Indonesia tidak dikendalikan oleh teknologi, dan harusnya sebaliknya, menjadikan teknologi sebagai alat untuk berkarya dan berinovasi.

Patriotisme, Nasionalisme dan Religiusitas

Kecerdasan intelektual harus satu tarikan nafas dengan kecerdasan spiritual, kira-kira begitulah yang dibahasakan Maestro Idrus Marham, dua karakter ini yang melahirkan kesalehan sosial. Dalam perbincangan kaum sufi, ada istilah muraqabah (mendekatkan diri), seseorang harus melakukan meditasi, kontemplasi, tentang dirinya lalu jiwanya terbang tinggi menuju alam 'uluwwi (alam ketuhanan) untuk mencapai ekatmata (kesatuan/manunggal), setelah itu turun lagi ke alam al-sufli (alam makhluk) untuk menebarkan rahmat dengan karya-karyanya.

Ideologi Karya Kekaryaan itu tentunya didasari dengan asas Pancasila, seorang yang Pancasilais tentunya harus memiliki tiga kepribadian, yaitu Patriotisme, Nasonalisme, dan Religiusitas. Patriotisme adalah bagaimana seorang pemimpin memiliki tanggungjawab, keberanian, kejujuran dan keadilan. Pada poin ini begawan politik Golkar menekankan kepada para kadernya pemimpin masa depan harus punya jiwa patriotis, rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara.

Nasionalisme, bangga menjadi anak Bangsa, tegas Idrus. Kata kunci itu adalah Bangsa, dalam UUD 45 kita harus tegaskan lagi amanat itu untuk Bangsa, bukan warga negara, kita harus membedakan mana bangsa, mana warga negara. Keduanya memiliki kedudukan yang berbeda, makanya ketika berbicara nasionalisme kepentingan yang harus diutamakan adalah kepentingan bangsa. Siapa bangsa Indonesia? Mari kita kembali pada kamus Sumpah Pemoeda 28 Oktober 1928.

Selanjutnya, relijiusitas, karakter ketiga ini adalah amanat tertinggi UUD 45, kita mengingat frasa "atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa" pada alinea ketiga pembukaan UUD 45, tidak ada negara di dunia ini yang dibangun dalam pondasinya ada nilai nasionalisme dan relijiusitas kecuali negara Indonesia. Patutlah kita sebut Pancasila sebagai ideologi paling ideal, ia mampu mencegah ekstrimisme baik dalam bentuk komunisme radikal atau liberalisme ekstrime. Pancasila memilih jalan moderasi, membantu mencegah polarisasi ekstrime, maka dari itu kemudian muncul sebuah gagasan Pancasila sebagai ideologi Sosialis Relijius.

Seiring berjalannya waktu, dan berkembangnya orde reformasi Pancasila sebagai asas tunggal mulai bergeser menjadi asas bersama yang menegaskan Pancasila tetap menjadi landasan utama dalam kehidupan bernegara, tanpa harus meniadakan keberagaman asas yang dipegang oleh kelompok, golongan, atau organisasi tertentu. Hal ini mencerminkan prinsip keterbukaan dan penghormatan terhadap kebebasan berpendapat.

Maestro Politik Golkar

Golkar awalnya memiliki fondasi ideologi yang kuat dalam bentuk kelompok fungsional, kekaryaan, dan anti-konflik ideologi. Namun, setelah Reformasi, akar pemikiran ini semakin kabur, membuat Golkar lebih dikenal sebagai partai yang fleksibel secara ideologi, dengan orientasi utama pada stabilitas dan kekuasaan politik.

Sebagai partai politik, Golkar memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari partai lain. Golkar mengusung prinsip kekaryaan, pembangunan, dan stabilitas nasional. Dalam dinamika politik pasca-Reformasi, Golkar menghadapi tantangan untuk tetap relevan di tengah perubahan lanskap politik Indonesia yang semakin demokratis dan kompetitif.

Di sinilah peran Idrus Marham sangat terasa. Dengan latar belakang akademik yang kuat, ia berperan dalam menegaskan kembali posisi Golkar sebagai partai yang mengedepankan keseimbangan antara kepentingan pembangunan ekonomi, stabilitas politik, dan demokrasi. Idrus meyakini bahwa Golkar harus tetap menjadi partai tengah yang inklusif, pragmatis, dan berbasis pada kebermanfaatan bagi masyarakat luas.

Sebagai seorang maestro dan ideolog politik Golkar, Idrus Marham bukan hanya seorang politisi, tetapi juga seorang pemikir yang berperan dalam merumuskan dan menjaga identitas politik partai. Dengan kepiawaiannya dalam merancang strategi dan mempertahankan relevansi ideologi Golkar, ia menjadi sosok yang tak bisa dilepaskan dari perjalanan partai ini.

Idrus dikenal sebagai sosok yang mampu merangkul berbagai faksi di dalam Golkar. Kemampuannya dalam membangun komunikasi lintas kelompok menjadikannya salah satu tokoh kunci dalam menjaga stabilitas partai, terutama saat Golkar menghadapi berbagai gejolak politik, termasuk konflik kepemimpinan internal.

Halaman:

Tags

Terkini

KH. Imam Jazuli di Antara Kenyataan dan Kritikan

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:28 WIB

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB