Begitu juga kita dalam bertasawuf tidak diajarkan untuk berpura-pura mengabaikan pada permasalahan yang terjadi di sekitar kita. Sebaliknya, kami meminta kepada para ulama yang mengajarkan tasawuf agar kami memahami alasan mereka mengajarkan metode bertasawuf.
Terakhir, kami menyikapi mereka yang mempertanyakkan, mengapa kita tidak mempelajari adab dan mensucikan jiwa langsung dari Al-Qur'an dan Sunnah? Ini adalah kata-kata yang makna nyatanya adalah rahmat, dan yang di hadapannya adalah malapetaka.
Karena kita tidak mempelajari rukun shalat, sunnah-sunnahnya, dan hal-hal yang membatalkannya, melainkan kita mempelajarinya dari ilmu yang bernama ilmu fikih. Para ahli fikih mengklasifikasikan dan menyimpulkan semua hukum tersebut dari Al-Qur'an dan Sunnah Sunnah, dan Anda tidak akan menemukan satu pun ulama yang belajar fikih menyebutnya langsung dari Al-Qur'an dan Sunnah.
Demikian pula ada hal-hal yang tidak disebutkan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah, maka harus dipelajari dari seorang guru dan secara lisan dan praktis. Maka tidak pantas jika dibatasi pada kitab saja.
Seperti mempelajari tajwid yang kita perlu mengikuti terminologi khusus untuk itu. Semisal adalah mad yang dibunyikan adalah enam harakah. Para pengajar tajwid harus menguasai dengan jelas secara praktis beserta senseni tartil Al Qur’an.
Demikian pula ilmu tasawuf adalah ilmu yang dikembangkan oleh para ulama sufi sejak zaman Imam Junaid Al Baghdadi RA dari abad IV Hijriyah hingga saat ini. Ketika zaman sekarang tasawuf menjadi rusak dan akhlak menjadi rusak, beberapa tarekat sufi menjadi rusak, dan mereka menjadi terikat pada manifestasi yang bertentangan dengan agama Allah SWT, bahkan hanya demi memperkaya diri sendir. Seolah umat manusia digiring pada ilusi bahwa seperti ini adalah gambaran tasawuf.
Allah SWT akan membela tasawuf dan Umat Islam yang mengamalkan tasawuf dengan benar serta melindungi mereka dengan kekuasaan-Nya. Allah SWT berfirman :