Mush’ab Muqoddas, Lc
Pengamat Terorisme di Timur Tengah
Saat proses deradikalisasi untuk tokoh-tokoh Jamaah Islamiyah, Kementerian Dalam Negeri Mesir menggandeng seorang jurnalis senior dari koran Al Ahram bernama Makram Muhammad Ahmad. Berbagai seminar, forum diskusi, pengajian, dan aktifitas para tokoh Jamaah Islamiyah di dalam penjara, direkam oleh Makram Muhammad Ahmad.
Rekamannya ada dalam buku yang berjudul Murajaah am Muamarah yang berarti Revisi atau Konspirasi. Diterbitkan oleh penerbit Dar Al Shorouk yang dekat dengan sejumlah tokoh-tokoh moderat Ikhwanul Muslimin. Tahun terbitnya tidak jauh keluarnya para tokoh Jamaah Islamiyah dari penjara.
Pada buku tersebut, Makram Muhammad Ahmad mengungkapkan keseriusan dan semangat perubahan pada diri tokoh-tokoh Jamaah Islamiyah, di tengah ramainya suara yang meragukan Prakarsa Revisi Pemikiran dan Anti Kekerasan Jamaah Islamiyah. Kebanyakan mereka adalah para aktifis yang beraliran pemikiran liberal dan sekuler yang menganggap bahwa prakarsa tersebut adalah konspirasi para pemimpin Jamaah Islamiyah yang dipenjara sejak tahun 1981 akibat terlibat pembunuhan Presiden Anwar Sadat dapat segera keluar dari penjara dan kemudian melancarkan aksi teror kembali.
Berbeda dengan para korban teror dan aparat keamanan yang berhadapan langsung dengan para teroris, kecurigaan mereka adalah hal yang wajar. Begitu juga para petugas aparat keamanan yang memang bertanggung jawab pada kondisi keamanan.
Apa yang dilakukan oleh para petinggi Jamaah Islamiyah ? Mereka membuktikan bahwa mereka serius dan dengan jujur melaksanakan Prakarsa Revisi Pemikidan dan Anti Kekerasan. Jamaah Islamiyah memang tidak dibubarkan, akan tetapi sayap militer dibubarkan. Senjata dan bahan peledak diserahkan kepada aparat keamanan.
Sejumlah tokoh Jamaah Islamiyah seperti Najih Ibrahim, Karam Zuhdi, Isham Darbalah dan Osama Hafidz secara bersama-sama mengarang berbagai buku sebagai bentuk kejujuran revisi pemikiran. Banyak diksi-diksi yang disalah-pahami, seperti jihad, pengeboman, khilafah, Negara Islam, penerapan Syariat Islam, dan banyak lainnya dikoreksi dalam seri buku yang kemudian diterbitkan oleh penerbit Dar Obeikan Arab Saudi. Sejumlah tokoh dari kalangan ulama, akademisi bahkan tokoh-tokoh moderat Ikhwanul Muslimin ikut membantu penyusunan seri buku tersebut.
Usaha ini cukup berhasil meyakinkan masyarakat awam dan aparat keamanan. Hanya saja, memang para aktifis yang beraliran liberal dan sekuler terutamanya dari kalangan Kiri Baru terus berusaha dengan berbagai cara meyakinkan publik adanya konspirasi demi konspirasi. Mereka adalah kelompok pertama yang membenci para mantan teroris yang telah merevisi pemikiran dan telah berpemikiran moderat, bahkan turut membantu aparat keamanan dengan aktif menciptakan ketentraman.
Kelompok kedua yang membenci para mantan teroris adalah para aktifis dan para pemimpin pemikir radikal seperti dari para tokoh faksi radikal Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir. Kebencian mereka sangat mendalam kepada para mantan teroris.
Bentuk kebencian ini dapat kita lihat saat merebaknya Arab Spring. Tidak sekidit para tokoh radikal dari Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir membenci para mantan teroris dan tokoh-tokoh moderat Jamaah Islamiyah seperti Najih Ibrahim dan Karam Zuhdi yang konsisten berpegang teguh pada Prakarsa Revisi Pemikiran dan Anti Kekerasan serta mengajak para anggota, kader dan pimpinan Jamaah Islamiyah untuk berpegang teguh padanya.