Pasalnya, selain tafsir al-Jalalain Imam al-Suyuthi juga menulis karya tafsir berjudul al-Durrul Mantsūr fi Tafsīri bi al-Ma'tsūr.
Selain itu, posisi Imam al-Suyūthi di dalam Tafsir al-Jalālain, adalah sebagai co-writer (penulis pendamping).
Baca Juga: Tiga Pilar Fikih Haji
Karena sebelumnya, karya tafsir itu diawali oleh guru beliau, al-Imam Jalaluddin Abu Bakr al-Mahally.
Imam al-Suyūthi hanya melanjutkan karya setengah jadi yang ditinggalkan gurunya.
Tidak akuratnya pandangan Imam al-Suyūthi dari aspek sains, yaitu ketika mengatakan bumi itu datar, tidak serta merta mendegradasi status keulamaan beliau.
Kita mengakui bahwa karya seorang manusia tidak luput dari kekurangan.
Baca Juga: Nasehat Ketua Umum PP Muhammadiyah untuk Timnas ; Kalah, Masih Ada Asa
Tidak ada karya manusia yang sempurna, di dalam posisi ini, kita merujuk kepada ucapan Imam Malik bin Anas rahimullah:
كلٌّ يُؤْخَذُ وَ يُتْرَكُ اِلَّا صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ
Semua pendapat bisa diterima dan bisa ditolak kecuali pendapat penghuni kubur ini (sambil menunjuk makam Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam).
Baca Juga: Nasehat Ketua Umum PP Muhammadiyah untuk Timnas ; Kalah, Masih Ada Asa
Karena itu di kalangan ulama berkembang tradisi kritik yang menegaskan bahwa tidak ada pendapat yang paripurna.
Demikian kiranya kondisi yang bisa kita baca dari pemikiran Imam al-Suyūthi.
Lalu, bagaimana dengan tafsir Jalalain?