SENAYAN POST – Kisah para ulama muslim terdahulu seolah tak ada habisnya.
Beribu kisah bak menjadi bekal untuk para muslim masa kini yang digempur berbagai perubahan, sekaligus sebagai pertimbangan maupun bekal untuk ilmu pengetahuan baru.
Salah satu kisah ulama yang menarik adalah dari Imam Jalaluddin Abdurrahman Al-Suyuthi rahimahullah.
Baca Juga: Imigrasi Arab Saudi Siapkan Proses Pemulangan Jamaah Haji
Imam Jalaluddin Abdurrahman al-Suyuthi rahimahullah, ulama yang melahirkan 600 karya ilmiah, hidup kira-kira pada tahun 1445 sampai 1505 M.
Masa tahun 1400 sampai dengan masa 1500 M disebut sebagai masa stagnasi pemikiran umat Islam.
Karya-karya ulama pada masa itu tidak lagi bercorak ekspansif sebagaimana pada abad-abad sebelumnya.
Baca Juga: Tentara Israel Penjajah Bombardir Tenda Pengungsian di Al Mawasi Rafah, 7 Warga Palestina Syahid
Imam al-Suyuthi hidup pada abad ke-7 Hijriyyah, yang oleh banyak pengamat disebut sebagai masa kemunduran berpikir umat Islam.
Dikatakan demikian, karena tidak lagi muncul mujtahid muthlaq sebagaimana pada abad ke-2 dan ke-3 H.
Tidak hanya itu, di internal mazhab fikih pun tidak lagi muncul mujtahid mazhab seperti Imam al-Rafi'i dan Imam al-Nawawi.
Baca Juga: Jualan Agama dalam Konflik Politik Internal Israel
Walaupun diakui bahwa masih banyak mujtahid fatwa di berbagai mazhab fikih pada masa itu.
Kemunduran berpikir umat Islam disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya perebutan kekuasaan oleh faksi-faksi politik umat dan bangkitnya kesadaran umat Kristen Eropa terhadap posisi Yerussalem yang ketika itu berada di bawah kekuasaan umat Islam.