Oleh: Dr. Abdul Aziz, M. Ag, Dosen Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said Surakarta
SENAYANPOST - Mungkin tak banyak orang tahu, Suku Bugis, punya tradisi tulis yang amat bagus dan kaya, baik dalam bentuk sastra maupun hukum, atau blending keduanya.
Dunia, misalnya, terkagum-kagum terhadap syair amat anjang, La Galigo. Kitab sastra epik kehidupan ini ditulis dari budaya lisan suku Bugis sejak abad ke-13.
La Galigo merupakan salah satu karya sastra besar dunia. UNESCO mengapresiasi La Galigo sebagai “Memory of the World.”
Karya sastra ini berupa surek (narasi atau serat sastra puitis), yang terdiri dari 6.000 halaman dan 300.000 baris teks.
Baca Juga: Opini: Hak Angket dalam Transparansi dan Akuntabilitas Syariah Islam
La Galigo menceritakan sebuah kisah asal-usul manusia dan peradabannya. Seperti epik Adam dan Hawa yang kemudian anak cucunya memenuhi bumi dengan dinamika peradabannya.
Pada awal kelahiran La Galigo, surek ini dipercaya oleh leluhur suku Bugis sebagai pedoman hidup. Karena itu surek La Galigo dianggap sakral. La Galigo ditulis dalam huruf asli Bugis kuno yang kini dibaca bagaikan mantra untuk tolak bala, selamatan rumah baru, menyambut musim tanam, upacara pernikahan dan lain-lain.
Nah, dari tradisi Bugis ini pula, kini ditemukan kitab tata cara manusia dalam melakukan hubungan seksual -- populer dengan kama sutra, pinjam literasi India -- dengan nama Assikalaibineng.
Kama sutra Assikalaibineng ini, ditemukan dan disusun menjadi buku oleh seorang ahli filologi dari Universitas Hasanuddin, Makassar, Prof. Dr. Muhlis Hadrawi.
Baca Juga: Hari ke-127 Perang, Jihad Islam Palestina Sebut PM Israel Benjamin Netanyahu Hanya Punya Dua Pilihan
Yang menarik dari buku kama sutra Assikalaibineng ini, seperti diceritakan penyusunnya Prof. Muhlis Hadrawi (lihat harian Kompas 8 Maret 2024, hal. 16) adalah kesesuaiannya dengan syariat Islam.
Menurut Prof. Muhlis Hadrawi, Assikalaibineng mengajarkan konsep relasi antara suami dan istri dengan pendekatan etik dan moral yang berbasis spiritual relijius.
Persetubuhan, menurut naskah kama sutra Suku Bugis ini, bukan melulu soal birahi, melainkan dilakukan dengan penuh kesadaran (mindfulness), pengertian terhadap pasangan, dan dilakukan sembari mengingat Allah.