Baca Juga: Lirik Lagu Dangerous, Ten NCT, Bercerita Tentang Hubungan Tanpa Status, Siapa Relate?
Kendati demikian, yang membuat posisi Kang Said tampak “khusus” adalah deretan gelar akademik yang disandangnya ketika, sekali lagi, mendapat kehormatan menjadi ketua umum PBNU.
Maka, jika sejarah Kang Said harus ditulis, ujar Fachry, beliau masuk ke dalam kategori ─ pinjam istilah Eric Hobsbawm – macro-historical narrative di dalam dunia kaum Nahdliyyin.
Ini bukan berarti ribuan jumlah kaum berpengetahuan agama Islam di kalangan Nahdliyyin berada di bawah Kang Said. Apa yang terjadi justru sebaliknya.
Di samping pengakuan bahwa Kang Said belajar kitab-kitab kuning di bawah bimbingan tokoh-tokoh pesantren, seperti Kiai Machrus Ali dari Ponpes Lirboyo Kediri dan Kiai Ali Maksum dari Ponpes Krapyak Yogya.
Baca Juga: Lirik Lagu Holssi, IU, Jadi Salah Satu Single di Album The Winning
Ilmu pengetahuan agama Universitas Umm al-Qurra, Mekah, justru sepenuhnya terintegrasi atau merupakan bagian dari apa yang disebut intelektual muslim Ulil Abshar Abdalla sebagai “gunung teks”, keislaman yang telah terkonservasi ratusan tahun di dalam tradisi berpikir kaum Nahdliyyin.
Ilmu pengetahuan agama yang dimiliki Kang Said, dengan demikian, bukan merombak susunan teks yang “menggunung” itu.
Melainkan, memberikan kontribusi agar “gunung teks” itu terdorong ke arah posisi yang lebih tinggi, Fachry Ali dalam Catatan Struktural tentang Kang Said Aqil dan Kaum Nahdliyyin, kata pengantar Kiai Pesantren Membangun Peradaban, 70 Tahun Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj, MA.
Dalam konteks inilah, sosok Kang Said, ikut mewarnai “kekayaan wacana keislaman NU” sepeninggal Gus Dur.
Baca Juga: Lirik Lagu ONE SPARK, TWICE, Paduan Bahasa Korea dan Bahasa Inggris
Barangkali, itu pula yang menyebabkan kedekatan hubungan Kang Said dan Gus Dur semasa “Sang Presiden RI" dari kalangan NU itu masih hidup.
Dengan rendah hati, Kang Said mengakui, bahwa Gus Dur adalah “Guru Besar” yang membimbing hidupnya. Sedangkan Gus Dur menyebut Kang Said sebagai “Perpustakaan Berjalan” (walking Library).
Sebutan walking library itu menunjukkan luasnya pengetahuan Kang Said, putra Kiai Aqil pengasuh Ponpes Kempek, Palimanan, Cirebon ini.
Lepas dari kapasitas intelektual Kang Said yang mumpuni, menurut Fachry Ali, Ketua Umum PBNU 2010-2021 ini adalah sosok independen seperti Gus Dur.