khazanah

Menelaah Strategi Presiden Anwar Sadat di Perang 1973  

Rabu, 18 Oktober 2023 | 01:17 WIB
Momen Presiden Mesir Anwar Sadat ditembak tentara dalam parade militer di Ibukota Kairo pada 6 Oktober 1981. (Youtube@AParchive)

Untuk mengecoh Israel, Sadat mengutus seorang diplomat Mesir sebagai double agent dengan menjadikan London sebagai medan operasi intelijen.  Mossad, dinas intelijen Israel memberinya nama sandi The Angel. Namanya adalah Asyraf Marwan, menantu mendiang Presiden Nasser.

Berbagai Informasi adanya serangan-serangan dari Tentara Mesir ke Benteng Barliv sengaja dibocorkan. Tujuannya adalah mendapatkan kepercayaan dari Israel. Pemberian nama The Angel karena informasi yang disampaikan dianggap menyelamatkan prajurit Tentara Israel.

Tetapi, ada beberapa informasi yang sengaja salah, agar mempermainkan pikiran musuh. Perang adalah tipu muslihat. Sabda Nabi Muhammad SAW.

Saat serangan besar yang dirancang pada 6 Oktober 1973 bertepatan dengan 10 Ramadan, The Angel tetap membocorkan adanya serangan di hari itu. Tetapi sengaja salah menginformasikan jam berapa Mesir akan melancarkan serangan.

Disebutlah Mesir akan menyerang pada pukul 16.00 sore, tetapi sebenarnya Mesir menyerang pada pukul 10.00 pagi. Selisih 6 (enam) jam. Dengan ucapan “Atas Berkah Allah SWT” yang diucapkan Presiden Sadat, serangan serentak dilancarkan. Laut, darat dan udara.

Sehari sebelumnya, pasukan dari prajurit, bintara dan perwira dipulangkan untuk liburan. Pemulangan pasukan disiarkan secara umum. Tetapi mereka secara diam-diam di malam hari kembali ke barak.

Secara terbuka, Sadat sendiri menuju kota Tanta, provinsi Gharbeya, ziarah ke makam Imam Ahmad Badari RA, salah satu wali quthub. Ziarah adalah kebiasaan Sadat, yang merupakan seorang pengikut tarekat sufi.

Enam jam itu adalah waktu yang digunakan oleh Israel untuk mempersiapkan pertempuran. Pasukan yang sedang bersiap-siap adalah target yang sangat empuk, karena mereka masih mempersiapkan diri.

Benteng Barliv yang dipropagandakan gagah perkasa, disemprot air oleh pasukan Tentara Mesir, dengan pompa air yang dibeli dari Inggris. Pasir turun, akses terbuka. Tank dan kendaraan kavaleri lainnya memasuki Benteng Barliv, mengalahkan Tentara Israel.

Tentunya Israel membalas. Bahkan kavaleri Tentara Israel yang dipimpin Ariel Sharon berhasil menyebrangi Canal Suez. Sekitar 6 (enam) jam perjalanan ke Cairo menggunakan tank. Tentu dengan mobil hanya setengah waktu saja.

Seperti yang sering disampaikan oleh Prof AM Hendropriyono, perang adalah kebijakan politik. Tugas tentara adalah bertempur. PM Israel Golda Meir memerintahkan Ariel Sharon kembali ke Israel. Pemerintah Israel siap berunding dengan Pemerintah Mesir.

Sayangnya, Golda Meir tewas ditembak oleh seorang teroris radikal Yahudi Ultra Orthodoks. Penggantinya, Isaac Rabin meneruskan pembahasan perdamaian dengan Mesir. Perjanjian ini disebut Camp David, difasilitasi oleh Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter, ditandatangani pada 1979.

Antara tahun 1973 hingga 1979, Sadat semakin membuka Mesir untuk investor Amerika Serikat dan Eropa. Banyak barang impor dari Amerika Serikat dan Eropa membanjiri Mesir, dari mobil hingga pakaian.

Sadat mengetahui, apa itu Israel, dan negara mana saja yang berada di belakang Israel. Walaupun dengan dukungan Uni Soviet, Mesir tidak akan mampu mengalahkan Israel.

Maka, pertempuran hanya untuk memaksa Israel untuk duduk di meja perundingan. Tidak hanya Semenanjung Sinai, Palestina justru menjadi pembahasan pertama dalam perjanjian Camp David.

Halaman:

Tags

Terkini

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB

Krapyak

Selasa, 21 April 2026 | 22:32 WIB

Muslihat AS Menyerang Iran

Selasa, 14 April 2026 | 17:11 WIB