Dari Adopsi ke Inovasi: Al-Ījād dan Transformasi Peradaban Nahdlatul Ulama

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:53 WIB

Bagaimanakah rekonstruksi kaidah al-muḥāfaẓatu ‘alal-qadīmiṣ-ṣāliḥ wal-ījādu bil-jadīdil-aṣlaḥ ini diejawantahkan dalam agenda strategis NU di abad kedua?

Manifestasi al-Ījād pertama-tama harus diwujudkan melalui inovasi epistematis dan pengembangan sains. Perguruan tinggi dan pesantren NU tidak cukup hanya menjadi ruang transmisi ilmu-ilmu syariat klasik, tetapi harus bertransformasi menjadi pusat produksi pengetahuan melalui riset kecerdasan buatan, sains material, bioteknologi, dan berbagai disiplin strategis lainnya. Metodologi turāts perlu dipertemukan secara kreatif dengan sains modern untuk melahirkan epistemologi baru yang tidak hanya unggul secara teknologis, tetapi juga memiliki fondasi etik dan humanistik. Pada saat yang sama, etos penciptaan harus diterjemahkan ke dalam ekosistem ekonomi mandiri melalui penguatan rantai pasok warga NU, kedaulatan pangan, kewirausahaan komunitas, serta institusi keuangan syariah yang produktif, sehingga masyarakat tidak terus-menerus berada dalam ketergantungan terhadap kapitalisme yang bersifat ekstraktif.

Lebih jauh, al-Ījād harus melahirkan kebudayaan global alternatif. Islam Nusantara tidak boleh berhenti sebagai jargon untuk mempertahankan identitas kultural lokal, melainkan harus dikembangkan menjadi paradigma yang mampu berbicara di tingkat dunia. NU dapat menjadikan pengalaman historis Islam Nusantara sebagai basis untuk menawarkan model resolusi konflik, tata kelola masyarakat plural, etika ekologis, dan hubungan antarperadaban yang lebih berkeadilan. Dengan demikian, al-Ījād bukan sekadar kemampuan menciptakan sesuatu yang baru, tetapi sebuah proyek peradaban: menciptakan pengetahuan, membangun kemandirian ekonomi, dan menawarkan kebudayaan yang mampu memberi jawaban terhadap problem kemanusiaan global.Sejarah tidak pernah ditulis oleh para konsumen yang pasif. Sejarah selalu dipahat oleh para pencipta, perintis, dan mereka yang berani melangkah keluar dari kenyamanan adopsi (al-akhdzu) menuju keberanian kreasi (al-ījād).

Nahdlatul Ulama telah membuktikan daya tahan kehidupannya (’umr) selama seratus tahun. Namun, untuk mengubah ’umr menjadi ’umrān (peradaban), NU membutuhkan imperatif epistemologis baru. Dengan melangkah dari adopsi menuju inovasi, NU tidak sedang membuang tradisinya; NU justru sedang membawa tradisi tersebut ke puncaknya yang paling agung: memelihara warisan lama yang baik, seraya terus memproduksi ciptaan baru yang jauh lebih baik bagi kemaslahatan kemanusiaan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

Ditulis Bukan untuk Warga Syiah

Selasa, 4 Agustus 2026 | 18:48 WIB

Neo-Sundanisme: Proyek Peradaban Dedi Mulyadi

Selasa, 28 Juli 2026 | 19:50 WIB

KH. Imam Jazuli di Antara Kenyataan dan Kritikan

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:28 WIB

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB
X