Secara psikologis dan sosial, perubahan sikap dan bahasa tubuh juga menjadi indikator yang perlu dicermati. Terlihat adanya perbedaan ketegangan yang signifikan antara pihak yang terlibat langsung dalam penerimaan pesan tersebut dengan peserta lain yang hanya mengikuti jalannya sidang secara resmi. Tindakan yang dilakukan di luar prosedur kerap kali menimbulkan kesan adanya hal yang disembunyikan, padahal NU sebagai organisasi besar membutuhkan keterbukaan agar setiap langkah dapat dipertanggungjawabkan.
Penutup
Peristiwa di Munas dan Konbes ini menjadi pelajaran berharga bahwa menjaga prinsip musyawarah bukanlah hal yang mudah, terutama saat dihadapkan pada kepentingan yang beragam. Kegaduhan yang terjadi bukan semata-mata karena perbedaan pilihan lokasi, melainkan lebih pada cara proses pengambilan keputusan itu dilakukan. Jika NU ingin tetap teguh pada jati dirinya sebagai organisasi yang mengutamakan kesepakatan bersama, maka setiap forum harus menjaga keterbukaan, kepatuhan pada prosedur, serta menghindari campur tangan informasi yang tidak melalui jalur resmi.
Menyelesaikan persoalan ini membutuhkan ketenangan dan sikap terbuka dari semua pihak. Penjelasan yang lengkap dan transparan akan menjawab keraguan, serta mengembalikan kepercayaan bahwa di dalam tubuh NU, keputusan terbaik selalu lahir dari jalan musyawarah yang adil dan bermartabat.[]